Home / Artikel Haji / Islami / Bekas Ramadhan

Bekas Ramadhan

Olimpiade di London beberapa pekan kemarin, mungkin sedikit mengecewakan kita, bangsa Indonesia. Betapa tidak. Mulai dari prestasi yang minim, sampai kegeraman akibat diskualifikasi atlet andalan kita di bidang bulutangkis. Sedangkan prestasi dari cabang olahraga yang lain sampai saat ini belum memberikan kabar baik.

Sepertinya ada yang salah. Bisa jadi gemblengan untuk para atlet di pelatnas tidak mengasah ketrampilan mereka dengan baik. Atau bisa jadi para atlet tidak mengindahkan prinsip dan arahan pelatih di pelatnas untuk diterjemahkan pada pentas eksekusinya di London. Tapi entahlah, tentu mereka lebih tahu.

Saudaraku, bagaimana dengan kita. Belum genap satu bulan lamanya kita meninggalkan ramadhan. Dan…masihkah arahan-arahan Ilahiah masih sering kita perhatikan dan dengarkan. Masihkah kita mengangkat suasana ramadhan menjadi pilihan dalam berkehidupan. Mampukah ketakwaan kita seprima saat kita berpuasa kemarin, sampai-sampai kita tidak akan berani meminum air wudhu yang mencuci mulut kita meskipun tanpa diawasi oleh Polisi.

Atau jangan-jangan yang terjadi, sukacita menyambut idul fitri menjadi berlebihan. Dengan pesta pora, makan dan minum sebanyak-banyaknya, meninggalkan sholat jamaah di masjid dengan alasan silaturahim, melupakan sunnah berpuasa 6 hari di bulan syawal, menabur uang di mall dan restoran sampai lupa terhadap tetangga yang lapar, atau bahkan ada yang lebih parah dari hal ini.

Apakah ini maksud Allah me-ramadhan-kan kita kemarin. Apakah ketika ramadhan selesai, maka ketaatan pun musnah tak bersisa. Apakah kehidupan kita selepas ramadhan akan kembali dalam hutan rimba kesesatan yang dihiasi lumpur kehinaan.

Kita yakin tidak. Ramadhan ibarat pelatnas yang menempa kita selaku atlet kehidupan. Agar sebelas bulan berikutnya kita mampu menjalani kehidupan dengan stamina jiwa yang prima. Dihiasi akhlak perilaku dan kerendahan hati yang utama. Juga berselimut empati yang tanpa alpa. Menjadikan diri berlaku sesuai dengan fitrah dari-Nya. Sehingga kehidupan menjadi jauh lebih indah, bersahaja, penuh cinta, dan penuh makna.

Jika tidak demikian, sesungguhnya kita hanyalah seperti atlet yang memasuki pelatnas dengan kepura-puraan. Bersikap lembut dan santun dengan tetap membawa segunung kemunafikan. Dan dengan bodohnya kita mengharap akan berjumpa lagi dengan ramadhan di tahun depan.

Ramadhan yang kita lalui kemarin, haruslah berbekas. Masuk dan menjalari semua syaraf kesadaran di dalam jasad kita. Sehingga kebaikan-kebaikan yang telah kita ukir tidak mudah hilang begitu saja. Tanpa ada usaha untuk tetap memeluknya. Benar memang, bahwa kita hanya manusia biasa. Tak punya ke-ma’shum-an. Tapi juga benar bahwa, kita punya Allah tempat untuk bersandar sekaligus meminta ketaatan.

Sehingga, tantangan paling besar bagi alumni ramadhan bukanlah saat masih berada di bulan puasa, tapi justru setelah memasuki syawal dan bulan-bulan berikutnya. Karena itu, selayaknya kita memiliki suatu benteng jiwa. Suatu media abstraksi untuk menetapkan dan menerapkan suasana rabbaniyyah dalam sepanjang-panjangnya masa hayat. Kekuatan itu sering kita sebut sebagai ketahanan.

Benar, ketahanan untuk tetap menghadirkan Allah dalam setiap detak dan detik hidup kita. Namun, saudara, ketahanan ini tidak selalu menghadirkan sikap agresif dan “menyerang”. Adakalanya ketahanan yang dimaksudkan lebih bersifat statis dan pasif. Artinya, sikap statis dan pasif untuk tetap berada dalam jalan ilahiyah. Tidak mudah memang, namun bisa. Asalkan syarat untuk mencapainya harus dipenuhi.

Pertama, tekad dan kesungguhan untuk tetap memelihara nuansa ramadhan di luar ramadhan. Kebiasaan baik yang sudah hadir dan terlatih saat ramadhan haruslah kita gemakan. Di setiap tempat dan saat. Shalat tepat waktu, berjamaah di masjid, infaq, puasa sunnah, menghindari ghibah, dan ibadah yang lain. Sehingga kita tidak memiliki keluangan untuk melupakan campur tangan Allah SWT dalam setiap waktu.

Kedua, ketahanan ini memiliki saudara kandung bernama kesabaran. Keduanya hampir mustahil untuk tidak ditemukan bersama. Maka, untuk tetap berada dalam suasana kebaikan ramadhan, diperlukan juga kesabaran untuk taat terhadap Allah SWT. Kesabaran yang mendorong konsistensi dan keterpaduan berselimut keikhlasan. Sehingga dengannya kita mampu beribadah dengan seutama-utamanya jasad dan hati.

Saudaraku, sekali lagi, tidak mudah memang. Tapi BISA!!!  (AA)

Kata populer:

  • suasana ramadhan

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

One comment

  1. jika kita berusaha pasti ada jalan .. hehe,, makasih,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *