Home / Artikel Haji / Islami / Beristirahat dengan sholat

Beristirahat dengan sholat

Inilah ibadah paling dahsyat. Paling mulia. Paling sakral. Paling utama. Juga paling mesra. Tidak sama dengan perintah ibadah yang lain, perintah sholat tidak pernah “diturunkan” kepada Rasulullah SAW yang mulia. Karena saat menerima perintah sholat, beliau diperjalankan dan diangkat menuju tempat dan singgasana Allah SWT. Perjalanan yang dimulai dari Makkah menuju Baitul Maqdis di Palestina, kemudian ditarik ke atas hingga pada sidratul muntaha yang agung.

sholat11

Begitu spesialnya tempat yang dituju Rasulullah saat itu, sampai-sampai Jibril AS. tidak berani mengantarkan beliau sampai pada tempat pertemuannya dengan Allah SWT. Jibril, dengan segala rasa sungkannya, mundur dan “balik kanan” ketika Allah SWT mempersilakan rasul-Nya memasuki mihrab. Bertatapmukalah seorang makhluk dengan Rabbnya. Dalam keadaan jasad Rasul masih utuh. Bukan dalam bentuk ruh, seperti yang dituduhkan beberap munafik pada nabi.

Terjadilah dialog. Yang satu memuliakan yang lain. Sampai-sampai para malaikat yang mengetahuinya mengucapkan kalimat persaksian agung; syahadat. Benar-benar tak ada illah, tak ada sesembahan, tak ada pelindung dan penguasa selain Allah SWT. Dan bahwa seorang makhluk bernama Muhammad (SAW) bin Abdullah benar-benar utusan dan kekasih Allah.

Begitulah perintah sholat disampaikan. Kepada Rasulullah, para shahabat yang mulia, dan kita hari ini. Begitu pentingnya ibadah yang satu ini sampai semua fokus Rasulullah terbangun baik justru ketika sholat. Bahkan dalam sebuah riwayat yang terkenal Rasul sering sampaikan kepada muadzinnya (yaitu Bilal Al Habsyi r.a.): “Istirahatkan aku dengan sholat”. Rasul menunjukkan bahwa sholatlah yang menjadi penguat dan penyejuk hatinya. Kesenangan dan kesedihan yang beliau rasakan, ditumpahruahkan di dalam sholat. Bahkan rasa syukur dan terima kasihnya, yang diwujudkan dalam sholat (layl), berhasil membuat beliau lupa akan rasa sakit yang membuat kakinya bengkak. Sungguh citarasa ibadah yang luar biasa.

Begitupun dengan perilaku para shahabat yang mulia. Mengutamakan sholat di atas aktivitas yang lain. Bahkan di saat mereka bertemu dengan musuh di medan jihad. Di mana nyawa mereka saat itu sudah sangat dekat dengan sabetan ajal yang menyakitkan. Bahkan di dalam kitab fadhilah ‘amal karya Syeikh Maulana Muhammad Zakariyya, para shahabat tidak berani menghukumi seseorang menjadi munafiq, kecuali ketika yang bersangkutan telah lalai dalam mengerjakan sholat, terutama sholat berjamaah bersama Rasul. Membesarlah mereka. Secara kapasitas atau kemampuan manusiawi, juga ruang iman di dalam dada. Sehingga kejayaan demi kejayaan terus para shahabat dapatkan sepeninggal nabi.

Begitulah sholat. Mengajarkan kita banyak hal. Pelajaran yang didapat dari sholat, sama persis dengan apa yang diajarkan dan diterima oleh para shahabat. Namun sepertinya kita sendiri yang kurang memahami adanya nilai ajar yang terkandung di dalam sholat. Nilai-nilai yang seharusnya membuat kita mampu menang. Di dunia apalagi di akhirat.

Salah satu pendidikan dari sholat adalah keteraturan. Kunci keberhasilan seorang muslim yang benar adalah segala urusannya yang teratur. Ide derivatif dari hal ini adalah tentang kedisiplinan dan manajemen skala prioritas. Dengan sholat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, seharusnya membuat setiap muslim mampu mengatur distribusi waktu yang Allah berikan. Tidak hanya melulu bekerja. Juga tidak selalu beribadah (mahdhah). Kedisiplinan dalam penjadwalan aktivitas menjadi perhatian utama ketika kita mengambil hikmah dari sholat. Di samping itu, skala prioritas yang diajarkan melalui sholat membuat kita bisa melihat kepentingan sebuah urusan dengan lebih jeli. Mana yang sangat penting, penting, cukup penting, dan tidak penting untuk dilakukan dengan segera.

Begitulah Islam mengajarkan kita untuk menjadi pemenang. Pemenang yang sesungguhnya. Pemenang yang sejati. Oleh karenanya, mari kita mengikat kehidupan kita dengan sholat yang benar. Bukan malah membuat sholat menjadi pengikat yang membelenggu kesuksesan kita di dunia. Seimbangkan, jalankan, dan menangkan. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *