Home / Artikel Haji / Islami / Berqurban dan Empati

Berqurban dan Empati

Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesengsaraan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesengsaraan hari kiamat, dan barangsiapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesukaran, maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya
di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi(aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong sesamanya  [HR Muslim].

Hari ini, dengan segala kompleksitas variabel kehidupan, kebaikan dan keburukan dari aspek sosial kemasyarakatan tentu menghadirkan ragam yang tak sedikit. Terlebih dengan fakta empiris bahwa masalah-masalah yang hadir dalam kehidupan ini lebih cepat daripada kecerdasan manusia untuk mengatasinya. Hentakan informasi antar wilayah di dunia semakin mengecilkan ruang-ruang geografis yang diciptakan Tuhan sebagai pembatas ruang gerak.

Maka tak heran jika begitu banyak hadir fenomena sosial yang menjadi polemik di antara kita. Dan sekali lagi, tingkat kompleksitasnya pun beragam. Tapi setidaknya, setiap level masalah yang hadir memiliki dimensi yang sama dalam bab sebab. Bahwa setiap manusia akhirnya berpikir dan bertindak dengan sangat individualistis. Fitrahnya sebagai makhluk sosial pun dengan cepat atau lambat dibunuh untuk memenuhi kebutuhan diri yang tak pernah tahu dimana tepinya. Kemudian rasanya dunia adalah belantara yang tak berujung. Setapak demi setapak terasa menjadi ancaman langkah kaki yang bisa melukai atau bahkan membuat diri menjadi terperosok dan sangat sulit untuk bangkit lagi.

Akhirnya Islam pun datang dengan ide dasar memberi keselamatan untuk semua makhluk di bumi. Sekali lagi, semua makhluk di bumi. Sehingga begitu luasnya sasaran keindahan Islam yang disempurnakan dalam penyampaian risalah Rasul (SAW) yang mulia. Tak hanya manusia dalam ruang lingkup ekosistem keluarga, namun seluruh manusia pada umumnya dan kaum muslimin pada khususnya. Tak ada pembeda. Tak ada kasta. Bahkan sebagian, tanpa logika dunia.

Salah satu keindahan itu ada pada penerapan syariat berqurban. Ritual yang sejatinya berfungsi untuk mendekatkan diri antara makhluk dan penciptanya, dikemas oleh Islam sebagai regulasi sosial yang begitu apiknya. Kesadaran untuk terus menumbuhkan empati, kepedulian, sekaligus kesetiakawanan sosial tak boleh hanya untuk konsumsi ideologi dan konseptual saja. Namun harus diterapkan dalam karya realita yang tentu membutuhkan tenaga.

Dengan qurban, si miskin mampu merasakan nikmatnya daging kambing, sapi, atau onta yang mungkin tak pernah mereka pikir mampu membelinya. Kaum fakir merasakan kebaikan dan pertolongan sesamanya dengan tetap menjaga kehormatan. Kesehatan mereka pun tak lagi menjadi sebab bencana karena terpenuhinya kebutuhan protein jasad yang menjadi penopang badannya. Begitu pun dengan si kaya. Mereka tertuntut untuk mengeluarkan harta dunia agar kecintaan secara utuh hanyalah pada Allah semata. Dan tak ada lagi alasan untuk terlalu berbangga atas fasilitas yang mereka miliki dengan cara terus memperhatikan kehidupan si papa.

Sebagai ujung tujuan ide dalam berqurban adalah bagaimana setiap manusia mampu menterjemahkan ide-ide pertolongan kepada sesamanya dengan tetap memperhatikan batasan-batasan nilai yang telah ditetapkan dalam agama. Sehingga seluruhnya apa yang termaktub dalam Islam adalah tolong, pertolongan, dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *