Home / Artikel Haji / Islami / Buah Kejujuran

Buah Kejujuran

Menarik. Ada dua orang pedagang. Seorang berprofesi menjadi penjual minyak goreng. Yang lainnya berjualan kue kering dan basah di pagi hari. Tak terlalu tampak perbedaan di antara mereka. Kecuali pada warna rambut. Penjual kue memiliki rambut yang sudah memutih. Sedangkan pedagang minyak goreng masih terlihat begitu belia.

Keduanya terus berjualan selama beberapa tahun. Berjalan ke sana dan ke sini untuk memasarkan barang dagangannya. Sama-sama terlihat sibuk. Sama-sama terlihat lelah. Meski saya juga tak tahu apakah penghasilan yang mereka dapatkan juga sama besar.

Namun, pembaca sekalian, apa yang terjadi setelah sepuluh tahun berlalu sejak mereka memulai usahanya ini. Si penjual kue tetap konsisten menjual barang dagangannya setiap pagi keliling kampung dan sekolah. Sedangkan anak muda yang tadinya menjual minyak goreng sekarang berubah menjadi pengusaha properti perumahan dengan penghasilan seratus sampai seratus lima puluh kali lipat jika dibandingkan penjual kue.

Saya penasaran dengan kejadian yang sangat mencengangkan ini. Seorang tua dengan keunggulan pengalaman dagang bisa dikalahkan dengan telak oleh seorang anak muda yang jelas-jelas separuh usia darinya. Maka mulailah saya dengan beberapa teman, dengan analisis dan selidik seadanya, ingin mengetahui apa yang terjadi. Kami mencoba datang dan bertransaksi dengan kedua pihak secara terpisah.

Di suatu pagi, sesuai rencana, saya mencari Pak Tua penjual kue. Saya membeli beberapa kue. Harganya tiga ribu rupiah. Setelah saya sodorkan selembar uang pecahan dua ribuan dan selembar uang seribu rupiah saya beranjak pergi untuk mengamati dari tempat yang tidak terlalu dekat. Setelah beberapa langkah saya berjalan, datanglah seorang pria separuh baya berminat membeli kue yang dijual. Kemudian harga disepakati. Empat ribu rupiah. Pria pembeli kue pun mengeluarkan selembar kertas lima ribuan. Pak Tua penjual kue kemudian langsung merespon transaksi itu dengan sebuah kalimat pendek, “maaf Pak, ga ada uang seribuan…”

Saya benar-benar kaget dengan sikap Pak Tua yang demikian. Bukankah tadi saya sudah melampirkan selembar uang seribuan saat saya membeli kuenya. Tadinya saya ingin berprasangka baik dengan memikirkan kemungkinan bahwa beliau sudah pikun. Tapi, pikiran di kepala saya serta merta membantah fakta dugaan yang saya buat sendiri. Bagaimana seorang pikun bisa mengelilingi kampung dan sekolah-sekolah yang sama setiap harinya.

Rencana saya berhenti di situ. Saya tidak melanjutkan transaksi dengan seorang pengusaha muda yang berawal dari minyak goreng. Saya belajar satu hal mendasar dalam kehidupan, terutama dalam dunia perdagangan. Sepertinya ini alasan mengapa Pak Tua tetaplah seorang tua yang harus menjajakan kuenya dengan susah payah kesana kemari. Ini jugalah mungkin yang menyebabkan anak muda penjual minyak goreng bisa mengubah hidupnya menjadi miliarder; kejujuran.

Di kemudian hari saya mendapat nasihat dari seorang pengusaha sukses. Bahwa, dalam kehidupan, terutama jalur perdagangan, modal yang paling utama yang harus dimiliki manusia bukanlah uang atau kemampuan berdagang. Tapi, dapat dipercaya. Trusted man is more important than rich man.

Dan, inilah iman. Orang yang memegang sebuah janji setia; amanah. Orang-orang beriman adalah orang yang berusaha mengamankan diri dan orang lain dari apa yang diperbuatnya. Termasuk kejujuran dalam berjanji dan memegang kepercayaan orang lain.

Begitu pula Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita selaku umatnya. Gelar al amin yang beliau sandang tidak didapatkan dari angin lalu. Tapi karena integritas dan keteguhan beliau memegang janji dan berucap kebenaran. Bahkan, dalam sebuah sabdanya, beliau menyampaikan bahwa sifat kaum munafiq adalah khianat terhadap janji dan suka berkata dusta.

Mari, mari berperilaku jujur. Dalam keadaan apapun. Dalam satuan waktu seberapapun. Dalam urusan apapun. Meski hal kecil. Karena bukankah gunung batu akan semakin besar jika terus menerus diisi batu, meski kecil? Dan dengan kata lain, jika anda ingin sukses, jujurlah! (AA)

Kata populer:

  • uang seribu rupiah
  • duit seribu
  • uang seribu
  • seribu rupiah
  • gambar duit seribu
  • gambar uang seribu rupiah
  • gambar uang seribu
  • uang seribuan
  • seribuan
  • duit seribu rupiah

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *