Gelar HAJI

Seorang anak laki-laki SD, pagi-pagi, seperti kebanyakan anak-anak kita di usianya, berangkat ke sekolah. Diantarkan seorang laki-laki usia tanggung dengan motor besar warna hijau yang tidak biasa kita temui di jalanan. Baik merknya, apalagi harganya.

Kejadian yang biasa memang. Namun, ada hal yang menurut saya jarang terjadi atau mungkin langka.  Lelaki kecil ini tidak minta berhenti tepat di depan sekolahnya. Dia meminta untuk diturunkan pada jarak beberapa puluh meter dari tempat kebanyakan teman-temannya berkumpul. Dia turun dengan sangat santai. Berpamitan sekaligus mencium tangan sang pengantar, dan prosesi ini diakhiri dengan ucapan “Assalamualaikum….” dan lambaian tangan diselipi senyuman ceria.

Anak SD itu seakan tidak ingin diketahui teman-temannya. Bahwa dia diantarkan oleh sebuah motor mewah yang mungkin tak biasa ditemui oleh teman-temannya. Atau, kalaupun ingin kita lebih jauh menganalisis  kejadian ini, patutlah kita ambil kesimpulan sederhana bahwa anak ini tidak ingin diketahui teman-temannya, bahwa dia dari kalangan keluarga yang berada dalam bidang harta. Dia tetap bersikap apa adanya, layaknya anak seusianya. Dia tetap berusaha untuk merasa biasa-biasa saja dalam ketidakbiasaannya.

Pembaca sekalian, kejadian ini mungkin pernah anda alami. Baik sebagai pengamat ataupun sebagai pelaku. Lelaki kecil, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, rasanya memberi hikmah besar kepada kita yang jauh lebih dewasa ini satu prinsip penting untuk mengisi hidup dan kehidupan; kesederhanaan.

Bagaimana dengan kita, para orang dewasa. Apakah kita mampu seperti anak ini. Tetap bersikap biasa di tengah keluarbiasaan kita. Baik harta, kepandaian, posisi kantor, jabatan, atau status sosial yang menempel dalam gelar kehidupan kita. Apalagi dalam proses ibadah kita terhadap Allah SWT. Apakah kita tetap merasa biasa-biasa saja setelah kita beribadah dengan penuh ketaatan pada-Nya atau memandang orang lain – yang seharusnya kita bimbing menuju Allah SWT, dengan pandangan rendah dan merendahkan ?

Mungkin, aspek sosial yang tersebut di atas, sedikit memiliki kepantasan untuk disombongkan. Meski ini tetap saja bentuk kecacatan akhlak dan perilaku. Terutama sebagai muslim. Namun, yang sering kita temui dalam masyarakat kita adalah orang-orang yang menggunakan landasan keilmuan atau gelar dari agamanya sebagai bahan bakar roket keangkuhannya.

Seperti bab haji. Ibadah terakhir yang teranggap sebagai tiang penyangga keislaman kita ini, sering menghadirkan polemik sosial yang tidak bisa kita sebut sederhana. Ada golongan atau bagian dari masyarakat yang menganggap bahwa setelah seseorang naik haji di Baitullah, hampir-hampir yang bersangkutan menjadi ma’sum saat kembali ke tanah air. Artinya, masyarakat di sekitarnya mulai menspesialkan yang bersangkutan dengan satu alasan: haji.

Tapi tak jarang pula kita temui, godaan secara internal untuk merasa lebih dari orang lain, adalah dari pelaku ibadah haji. Bahwa, dengan alasan dia mampu bertamu ke rumah Allah, dia merasa berhak untuk mendapat derajat kebaikan yang lebih dari orang-orang yang belum (bukannya tidak mau)  naik haji.

Saudaraku, mari kita mencurigai diri kita sendiri. Yang manakah diri kita dari pembagian di atas. Bagi yang belum diperkenankan Allah untuk berhaji, janganlah kita menghukumi saudara-saudara kita yang pulang dari ibadah haji dengan harapan atau ekspektasi yang besar atas standar keislamannya. Justru, merekalah yang selayaknya harus dibantu, agar kepulangan mereka dari ibadah haji semakin menambah kebaikan mereka secara sosial dan menjadi kiblat lokal atau rujukan dalam akhlak seorang ahli ibadah. Dan tentu saja dselimuti oleh kesederhanaan, ketawadhu’an, dan kemabruran.

Bagi yang telah diijinkan Allah untuk berhaji, marilah untuk selalu mengingat nikmat Allah yang teramat besar ini. Tidak setiap muslim berkesempatan hadir di Baitullah. Thawaf dengan jutaan muslim dari seluruh dunia, menyampaikan salam pada hajarul aswad, sa’i,  sujud di dekat Kakbah, berkesempatan ziarah ke manusia agung yang paling dicintai Allah (baca : Muhammad SAW), dan kenikmatan-kenikmatan spiritual yang lain.

Maka, dengan itu, rasanya sangat buruk, jika keberlimpahan nikmat yang kita dapatkan justru membuat kita berlaku dan bersikap seakan kita lebih baik dan lebih utama daripada saudara-saudara kita yang belum berhaji. Apalagi, jika kita lebih mengedepankan gelar haji kita ketimbang kebaikan-kebaikan akhlak kita. Seharusnya, rasa syukur lebih kita wujudkan untuk membalas kebaikan-kebaikan Allah yang menghampiri kita. Setidaknya, ibadah yang semakin khusyuk – baik kualitas apalagi kuantitas dan akhlak yang semakin mendekati Rasulullah adalah batas minimum yang harus ada dalam diri kita selaku orang yang telah berhaji.

Kekuatan yang baik selalu akan tampil indah jika diliputi kesederhanaan yang menyentuh. Marilah bersederhana dalam bersikap. Apalagi bertindak. Maha Agung Allah atas segala sifat-Nya. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *