Home / Artikel Haji / Islami / Haji Mabrur

Haji Mabrur

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “haji yang mabrur.” (Muttafaqun’alaih)

Dzulhijah. Bulan yang membuat pasar ternak begitu ramai. Lebih dari biasanya. Perburuan domba, kambing, dan lembu adalah hal yang paling lumrah di bulan ini. Mungkin untuk konsumsi biasa atau mungkin konsumsi yang “luar biasa”.

sarana beribadah haji

Hal yang sama juga terjadi di Makkah Al Mukarramah. Rumah suci umat Islam kebanjiran tamu-tamu agung dari setiap jengkal sudut bumi. Tak hanya bangsa dan warna kulit, bahkan berbagai paham, pemahaman, selera beragama, sampai mahdzab pun juga berkumpul menjadi satu. Berputar, berjalan, berlari kecil, mabit, dan melempar jumroh dengan keselarasan.

Begitulah haji. Pesonanya tak pernah lekang dari hasrat fitrah manusia. Bahkan tekad untuk terus hadir di bangunan karya Ibrahim AS ini pun sudah menggeliat begitu hebat merasuki relung-relung iman dan nafas-nafas ketaqwaan. Tapi, saudaraku, hadits Nabi yang mulia bukan tanpa maksud untuk tercantum. Kalimat-kalimatnya bukanlah bujuk rayuan yang menipu. Apalagi mengandung dimensi palsu. Kata demi kata yang terlantun dari baginda SAW adalah ilmu yang harus kita dekati. Agar fitrah kemanusiaan kita yang alami terus terjaga dengan terhormat, bersih, tanpa kontaminasi penyimpangan.

Haji yang mabrur tersebut sebagai sebaik-baiknya amal sholih manusia. Tapi, hal ini berada pada urutan yang ketiga, setelah iman dan jihad. Artinya, setelah keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya membuncah dalam dada, menginspirasi sekaligus menjaga tiap gerak-gerik manusia, hal ini harus dibuktikan dengan upaya kesungguhan menegakkan hak Allah sebagai satu-satunya sesembahan (baca:jihad). Maka, tak ada lagi upaya berbantah bagi setiap kita untuk lebih mengutamakan haji ketimbang jihad (dalam dimensi yang luas).

Sekarang, marilah berfokus pada suatu frasa berikut: “ Haji mabrur”. Tampak jelas secara tekstual bahwa salah satu ibadah yang memiliki value tinggi adalah kemabruran haji. Ini tidak sekedar kita mampu membayar biaya haji kemudian berangkat ke tanah suci. Sudut dan tinjauan pandang kita harus benar-benar lebih diperluas. Karena jika haji hanya ditilik sekedar kulit, maka substansi haji hanyalah bentuk shafar yang biasa saja.

Predikat mabrur, justru sebenarnya yang menjadi kunci untuk membuka kesuksesan amal haji yang selama ini kita lakoni (atau baru ingin kita jalankan). Sehingga mari menyimak maksud dari kriteria mabrur dalam hadits di atas. Para ulama sepakat untuk menyatakan bahwa hanya Allah SWT yang mampu mendefinisikan sekaligus menilai apakah haji seorang hamba mabrur atau tidak. Namun, dari sisi leksikal-gramatikal, mabrur memiliki arti diterima. Sedangkan pada kontekstualnya, kita selaku manusia hanya mampu memberikan indikator atas nilai mabrur dari seseorang.

Salah satu indikasi utama kemabruran seseorang adalah melakukan ibadah haji tanpa disertai maksiat di dalamnya. Serta amal ibadah dan kebaikan-kebaikan secara umum ba’da haji meningkat dan konsisten. Sehingga ibadah haji pada hakikatnya adalah awal dari kebaikan-kebaikan yang terus bertambah. Tak hanya bersifat linier, namun juga eksponensial.

Oleh karena itu, hendaklah kita menjaga diri dan saudara seiman dalam memelihara maksud Ilahiah yang termaktub dalam syariat haji. Dengannya, kita memiliki tanggung jawab yang lebih berat namun mulia. Untuk menjadi teladan, contoh bagi masyarakat dan umat, untuk terus menjadi hamba Allah yang baik. Tak usahlah terlalu berbangga dengan gelar haji yang disematkan di depan nama kita. Karena itu bukan jaminan haji kita diterima Allah SWT. mari mengejar mabrur. Mari mengejar cinta Allah. Dan mari menjadi mulia. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *