Home / Artikel Haji / Islami / Hakikat Kesabaran

Hakikat Kesabaran

Mari untuk khawatir. Banyak distorsi yang terjadi tentang apapun saja. Informasi, komunikasi, ide dan hakikat serta tujuan teknologi, dan masih banyak lagi. Salah paham, tentu sudah menjadi konsekuensi logis atas kejadian ini. Maka kebenaran semakin tersamarkan. Maksud serta hikmah perbuatan jauh dari capaian. Kemudian pesona, hanya tinggal utopia semu yang tak pernah lagi hadir menyapa.

Seperti ide dan pemahaman kita tentang beberapa nilai dalam hidup. Tak seperti biasa, karena memang tak bisa (untuk dipahami). Ambillah contoh tentang sifat sabar.  Dan sejenak kita bercermin dengan pemahaman kita untuk melakukan aktivitas atau sikap sabar. Mari membuka laci-laci memori yang pernah (atau bahkan masih) singgah di benak pikir kita.

Benarkah sabar adalah suatu sikap pasif untuk kemudian berlindung di selimut pasrah. Lalu dengan naifnya kita menanggalkan jubah ikhtiar. Ditambah kebodohan diri dengan menganggap usaha kita hanyalah bertahan dengan kualitas berubah yang minimalis. Dan menyempurnakan kesalahan ini dengan hanya mengandalkan doa-doa yang kita antar pada-Nya dengan segala kekurangan di sana dan di sini.

Jika memang seperti itu, maka ide seorang sosialis bernama Karl Marx (yang kemudian menciptakan paham Marxisme sebagai induk sosialisme dan komunisme) tidaklah terlalu salah. Dengan pemahaman beragama seperti itu, Karl Marx dengan sangat tegas dan congkak menyatakan “Agama adalah candu”. Dengan konteks bahwa agama tidak lebih hanyalah suatu ide pertahanan yang membuat manusia melemah; atau lebih tepatnya kecanduan untuk bersikap lemah, merendah, terjajah, dan menyerah dengan terhinakan.

Maka mari mencari ide alternatifnya. Bukan untuk merevisi agama. Tapi memperbaiki kemampuan kita memahami hal-hal yang penuh hikmah ini. Bukankah tidak pernah terjadi suatu hal – yang sering kita sebut sebagai musibah atau bencana, tanpa ada izin sebelumnya dari Allah rafiqul a’la . Lantas, di mana keyakinan kita terhadap kalimat-Nya yang berbunyi:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. “  (QS Al Baqarah : 286)

Maha Suci Allah dari dugaan dan sifat dzalim terhadap hamba-hamba-Nya.  Konsekuensi logis dari ayat di atas adalah apapun masalah (atau apapun yang membuat anda menjadi risau) yang menimpa anda dan saya, tidak lain adalah kejadian yang diperintahkan Allah untuk terjadi pada diri kita. Tidak salah, apalagi tertukar. Maka menyambut setiap masalah yang hadir dengan kemeriahan keluhan, benar-benar suatu hal yang bodoh. Tak pantas dilakukan seorang manusia yang Allah sendiri banggakan di depan para malaikat-Nya.

Tapi juga tidak berarti kemudian kita tertunduk menyerah, pasrah, dan lemah. Karena merasa semua hadir dan datang dari-Nya, kemudian daya, upaya, kecerdasan, kekuatan fisik, logika, dan hati ikut menyepakati kelemahan diri yang sesungguhnya dibuat-buat sendiri sekaligus ditumbuhsuburkan oleh bisikan syaithan.

Maka selayaknya kesabaran kita dalam menjalani semua perihal hidup melahirkan suatu nilai positif; progresivitas. Tak hanya masalah, namun juga target, capaian, cita-cita, dan impian. Semua entitas tersebut harus direalisasikan dengan sebuah semangat keberhasilan. Dan dari sana setiap jiwa bergerak penuh perencanaan sistematis, memikirkan semua strategi yang efektif, disertai pengaturan tenaga fisik dan jiwa yang cermat dan efisien. Semua rangkaian itu ditutup dengan deklarasi totalitas ikhtiar yang sudah diusahakan berupa doa yang lemah lembut, santun, dan penuh harap.

Saudaraku, marilah menjadi insan mempesona. Dengan semua kebaikan dan prestasi konseptual yang dengan sangat indah kita terjemahkan menjadi perilaku nyata. Sehingga kitalah generasi pemenang dengan terhormat di dunia, sekaligus mulia di akhirat. Amin. (AA)

Kata populer:

  • kata motivasi kerja
  • GROSIR PERLENGKAPAN SHOLAT

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *