Home / Artikel Haji / Islami / Ibadah hanya untuk ALLAH

Ibadah hanya untuk ALLAH

“supaya jangan ada fitnah dan supaya dien itu semata-mata untuk Allah….” (QS. Al Anfaal : 39)

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

 (QS. Adz Dzariyaat : 56)

Dua ayat di atas setidaknya mewakili kebutuhan komunikasi yang intensif antara maksud Allah dengan niat hidup kita. Kenapa kita tercipta, menjadi manusia. Dan mengapa setiap diri memiliki perjanjian dan kontrak vertikal kepada Allah SWT atas apa yang dilakukannya di dunia. Dan semoga kita menjadi lebih mampu untuk memahami bahwa dien – yang sering diterjemahkan menjadi kata agama, dan kehidupan hanyalah untuk Allah rafiqul a’la.

Namun, deklarasi agung ini mungkin menyisakan suatu pertanyaan bagi kita semua. Bagaimana agar dalam kehidupan singkat di bumi yang semakin menua ini menghadirkan penghambaan yang utuh kepada Allah. Ini tidak hanya berlaku untuk kehidupan secara individual, namun juga berlaku secara kolektif, di semua komunitas dan ekosistem satuan sosial.

Dengan kata lain, Allah tidak boleh diimani secara parsial dan periodik. Namun harus dengan kemampuan integralistik dan sepanjang waktu yang diberikan pada manusia. Allah saja yang kemudian kita sembah dan kita jadikan sesembahan tunggal dalam kehidupan kita. Kita sembah Dia “di langit dan di bumi”. Konsekuensinya, kita menyembah-Nya dalam setiap ruang gerak hidup. Tidak pada aspek dan saat tertentu. Karena jika tidak, sesungguhnya kita hanyalah meneruskan sikap kaum Quraisy semasa kafirnya. Bahwa mereka mengimani Allah sebagai Tuhan “yang besar” sedangkan berhala-berhala di sekeliling kakbah sebagai “tuhan kecil”.

Tujuan besar ini (agar hanya Allah yang disembah – red) memiliki sunnatullah yang harus dipenuhi; bahwa realisasinya membutuhkan kerja keras dari komunitas muslim dengan skala besar. Tidak cukup sebuah atau suatu suku, ras, komunitas, atau bangsa untuk mengemban tugas mulia ini. Maka, perhatikanlah bagaimana Allah SWT mencoba menghilangkan sekat-sekat dikotomis berdasarkan aturan manusia dengan firman-Nya :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujuraat : 13)

Sehingga yang dibutuhkan untuk membuat penyembahan yang total dari bumi ini adalah komunitas atau gabungan manusia dengan gelar taqwa. Dari manapun asal, golongan darah, suku, warna kulit, atau variabel pembeda sosial lainnya. Kekayaan hasanah kehidupan itu pun akan hadir dengan begitu cantiknya. Kearifan lokal yang diiringi penerjemahan kebolehpantasan dalam kacamata Islam tentu akan semakin memperindah gerak kehidupan seluruh umat manusia.

Tentu yang menjadi tantangan umat Islam hari ini, termasuk kita, adalah bagaimana menghimpun kekuatan besar yang menggerakkan kesadaran umat Islam untuk menghidupi jamaahnya dengan satu prinsip yang sama; kebersamaan. Sengaja kami sampaikan redaksi kebersamaan untuk memberi nilai pararelisme dalam menjalankan tugas kita sebagai hamba Allah. Sekali lagi, kebersamaan, bukan kebersatuan. Karena tentu kita akan pahami dengan baik bahwa keunikan dan perbedaan yang terjadi antar muslim (selama bukan hal-hal yang prinsip atau ushul) adalah sah-sah saja.

Maka, perhatikan bagaimana Allah memberikan hikmah-Nya kepada kita. Dia mengajarkan kita untuk menyusun kekuatan dan kemampuan dalam suatu ruang gerak yang sama melalui ibadah suci: haji. Pertemuan internasional antar muslim di kakbah seharusnya memberi pelajaran indah kepada kita untuk menggerakkan diri dan jama’atul muslimin menjadi hamba-hamba Allah dengan prinsip yang sama.

Perbedaan tidak pernah menjadi masalah selama aliran darah keimanan tak tersumbat oleh kemunafiqan, kesombongan, dan kefasikan diri. Justru kebijaksanaan akan tercipta dengan alami jika setiap muslim mampu memahami hakikatnya dengan baik. Himpunan kebersamaan antar muslim akan mengantarkan kita pada prinsip persaudaraan (ukhuwah) yang menjadi bahan bakar perwujudan firman Allah. Agar agama dan pengabdian hanya untuk-Nya. Dan kemuliaan akan bertebaran dalam setiap jasad kaum muslimin di tingkatan komunitasnya, dalam skala apapun. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *