Home / Artikel Haji / Islami / Jalan Hidayah

Jalan Hidayah

Maha Suci Allah, yang telah memberikan kita kenikmatan hidup yang begitu banyak dan besar. Sampai tak ada sebuah celah kemungkinan pun untuk menghitung berapa nikmat yang dihadirkan oleh-Nya. Semenjak kita terlahir, hingga saat anda semua membaca tulisan sederhana dari kami ini. Oleh karenanya, rasa syukur sudah sepantasnya kita bangun untuk menjadi karakter kehidupan yang mampu menjadi alas sekaligus pondasi berpikir untuk melanjutkan kehidupan.

hidayah-milik-Allah

Terutama kenikmatan kesadaran kita untuk terus beriman, bertaqwa, dan mewujudkan iman dan taqwa tadi menjadi sebuah perilaku dan kebiasaan. Sehingga lahirlah sebuah kepribadian dan karakter yang terbangun dengan baik secara otomatis. Yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada sebuah anak rantai kenikmatan yang terus berputar tanpa henti dan dinamis bergerak mengisi kehidupan.

Namun ternyata belum banyak yang mampu meresapi dan memahami rasa syukur yang seharusnya sudah mulai hadir dan mendominasi hidup kita. Ketidakpahaman itu yang membuat kita kurang memperhatikan betapa berharganya sebongkah iman yang tersimpan di dalam hati. Yang akhirnya menjadi alasan utama untuk mempertuhankan Allah saja. Bukan yang lain.

Termasuk pada usaha dan ikhtiar kita menjadi perantara kenikmatan iman terhadap orang-orang di sekitar kita. Aktivitas ini didasari oleh kesyukuran kita atas keimanan yang kita peroleh. Agar semakin banyak orang yang merasakan bahwa tinggi sekali kenikmatan menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Bahwa sangat berharganya menjalani kehidupan ini di dalam topik keimanan dan koridor Islam.

Hal ini begitu heroik dicontohkan oleh salah seorang shalih dari Basra, Iraq. Beliau bernama Syeikh Hasan Al Bashri. Dikisahkan beliau bertetangga dengan seorang penganut Majusi. Begitu santun dan mulianya beliau memperlakukan tetangganya yang jelas-jelas berbeda akidah dan keyakinan. Sampai pada suatu jenjang masa, tetangga majusi Hasan Al Bashri menghadapi sakaratul maut. Beliau dengan belas kasih dan sayang menemani tetangganya dengan setia. Beliau terus mencoba untuk menuntunnya untuk mengenal Allah SWT.

Dengan segala penjelasan yang terang dan lugas Hasan Al Bashri berusaha sehalus dan semenarik mungkin agar si majusi ini membuka hatinya untuk meyakini Allah SWT. Hingga akhirnya tetangga beliau mengatakan sebuah kalimat isyarat, “Wahai Syeikh…hatiku (seakan) masih terkunci. Aku menunggu pembukanya.”

Kemudian Hasan Al Bashri menengadahkan tangan. Mengharap dan menghadap keridhoan Allah SWT. beliau berdoa agar Allah SWT berkenan memberikan hidayah kepada sang tetangga. Beliau terus menerus mendoakan hal yang sama. Setelah selesai berdoa, ternyata si majusi wafat. Hasan Al Bashri merasa sedih dengan kejadian ini. Karena tetangganya wafat dengan tidak membawa keimanan kepada Allah SWT.

Maha Besar Allah, Dia berkehendak lain. Tiba-tiba si majusi membuka matanya. Melihat Hasan Al Bashri kemudian berkata kepadanya, “Penjaga hatiku sudah membuka kuncinya. Tuntun aku Syeikh.”. Akhirnya tetangga Hasan Al Bashri yang beragama majusi tadi mengucapkan dua kalimat syahadat. Islamlah dia. Setelah itu dia kembali menutup mata untuk menghadap sesembahan yang baru saja diyakininya.

Begitulah Syeikh Hasan Al Bashri. Yang mampu melihat arti pentingnya menjadi jalan hidayah bagi manusia lain. Beliau sepertinya memiliki kepahaman yang penuh dan kokoh terhadap sebuah arahan Rasulullah SAW terhadap perjalanan hidayah.

Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian, bagaimana dengan kita. Manusia-manusia yang tentu kemuliaannya tidak seperti Hasan Al Bashri. Apakah juga tidak tergugah kemudian tersadar untuk mengantarkan orang lain menuju Allah SWT? Jika memang benar, maka mari memulai dari saat ini juga. Lihatlah keluarga kita yang mungkin tidak terlalu serius dalam berhubungan dengan Allah SWT. Istri atau suami, anak-anak kita, ayah-ibu kita, atau adik dan kakak kita. Atau bahkan mulai dari teman sekantor kita. Siapapun itu, berikanlah mereka kesempatan untuk menikmati iman yang semerbak di hati kita. Agar mereka merasakan indahnya dan amannya hidup dalam nuansa keindahan, yaitu Islam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *