Home / Artikel Haji / Islami / Kaya dan Miskin

Kaya dan Miskin

Pergolakan kehidupan manusia mungkin sering berbenturan pada suatu kenyataan terhadap kelas sosial. Tidak bisa dipungkiri. Sama sekali. Bahwa ada pembedaan dari berbagai sisi berdasarkan atribut hidup yang kita kenakan. Pembedanya pun sangat beragam. Mulai dari  yang tampak, seperti jabatan dan harta, hingga yang tidak tampak secara langsung, misalnya intelektual dan keilmuan.

Namun, rasanya, gesekan  yang sering kita alami dalam bermasyarakat adalah pembeda berdasarkan harta. Si kaya dan si miskin hampir selalu menjadi aktor utama kehidupan yang dibumbui dengan konflik antar keduanya. Mungkin karena sangat mudah ditemukan atau karena alasan yang lain, keduanya sering menjadi inspirasi kita semua dalam obrolan dan bahan hiburan.

Beberapa kejadian yang anda temui, bisa jadi semakin membenarkan apa yang kami tuliskan di atas. Tapi mungkin yang menarik untuk kita jadikan hikmah dan pelajaran adalah secuil inti yang mendasari konflik antara kedua kasta sosial ini.

Si Miskin dan kemiskinannya

Sebagai kaum yang merasa tertindas, banyak yang merasa bahwa kaya adalah suatu kesesatan, dosa, dan pelanggaran terhadap kehidupan. Sehingga tak jarang hadir kecurigaan sekaligus kecemburuan yang menghilangkan objektivitas dalam berpikir. Apalagi jika ditambah dengan kelemahan iman terhadap Allah SWT. Lengkaplah formulasi iblis untuk menebarkan kebencian antar makhluk Allah SWT.

Padahal jika kita ingin sedikit jujur terhadap diri sendiri, banyak sekali faktor penyebab kemiskinan yang melanda kita, disebabkan internal pribadi kita. Mari mengoreksi diri selaku individu dan sebagai kaum muslimin.

Tabiat pendidikan kita jarang sekali yang mengajarkan untuk menjadi kaya sekaligus rendah hati. Justru yang sering adalah menghindari iri hati terhadap kesenangan atau fasilitas yang dimiliki orang lain. Padahal dalam suatu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, dinyatakan bahwa tidak boleh kita selaku muslim iri terhadap muslim lainnya, kecuali pada dua hal, salah satunya adalah kekayaan yang dibelanjakan di jalan Allah SWT.

Atau yang lebih parah adalah, sejak kecil kita tidak pernah dididik untuk menjadi kaya. Tapi justru diberikan jurus pengertian untuk “qonaah” terhadap apa yang Allah berikan. Sehingga dengan ikhtiar yang minimalis kita mengeluarkan tameng tawakkal terhadap pendapatan harta benda yang kita terima. Dan kita dengan sangat percaya diri menganggap diri kita adalah bagian dari orang-orang yang zuhud. Padahal yang terjadi adalah kemiskinan yang menjadi nasib hidup, bukan pilihan hidup.

Tentu hal ini kurang tepat untuk dipahami. Marilah kita berkaca pada Rasulullah dan para shahabatnya. Para pembaca tentu sangat masyhur dengan fakta sejarah bahwa Rasulullah SAW menikah pertama kali pada usia 25 tahun dengan mahar 100 ekor unta. Mari berpikir sedikit agak dalam. Jika saat ini kita konversi seekor unta dengan harga 5 juta rupiah saja – meski kami yakin harganya lebih dari itu, maka saat menikah, Rasulullah yang mulia menyediakan mahar untuk istrinya sebesar 500 juta rupiah. Benar, setengah milyar. Bukankah ini sudah bukti bahwa Rasulullah SAW mendidik kita untuk menjadi orang kaya bahkan di usia yang sangat muda.

Jika belum cukup, mari melihat informasi kekayaan salah seorang shahabat saja, Umar bin Khattab r.a., mertua sekaligus menantu Rasulullah. Kekayaan yang beliau peroleh sebagai passive income sebelum menjadi khalifah kaum muslimin ditaksir hampir dua trilyun rupiah. Ini didapatkan dari usaha propertinya. Maka ketika kepemimpinan umat ini memilih berhinggap di jasadnya, Umar r.a. mampu total dalam bertindak dan mengelola hajat hidup kaum muslimin. Mulai dari pendapat sampai pendapatan kaum muslimin.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, kekayaan dan kemiskinan, memang benar hadir dari ketentuan Allah SWT. Kita tidak pernah meragukan-Nya sebagai penguasa segala sesuatu. Hanya saja, keyakinan ini jangan membunuh keyakinan kita yang lain bahwa Allah juga mampu membuat kita kaya sekaligus menjadi miskin dalam sesaat. Sehingga, semangat kita dalam ikhtiar mencari nafkah dari jalan yang halal dan baik harus mulai tertuang lebih total lagi dalam kehidupan. Bukan menyerah tak berdaya tanpa melaluinya dengan kerja keras dan doa yang utuh.

Di samping itu, kekayaan maupun kemiskinan, tidak selayaknya membuat kita jauh dari Allah SWT. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh nabi Allah SWT. Kemiskinan dan penderitaan hidup yang melanda Nabi Ayyub A.S. tidak membuatnya putus asa dan buruk sangka terhadap Allah SWT. Beliau menerimanya dengan suatu tekad husnuldzon yang bulat. Terus berikhtiar untuk memperbaiki diri dan hubungannya kepada Allah SWT. Maka, Allah pun memberi kekayaan yang banyak dan berkah setelahnya.

Begitu juga saat kekayaan singgah dalam hidup kita. Seharusnya membuat kita semakin bersyukur atas karunia Allah SWT dan menggunakannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan membusungkan dada dan merendahkan orang lain.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekayaan, kebaikan, dan keberkahan pada harta dan hati kita. Wallahua’lam. (AA)

Kata populer:

  • perbedaan bangunan kaya dan miskin
  • perbedaan kaya dan miskin menurut islam
  • pesan untuk bangunan kayabdan miskin

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *