Home / Artikel Haji / Islami / Kerapihan Shof

Kerapihan Shof

Mungkin saatnya bagi kita untuk melihat dengan penglihatan yang baik. Pandangan jujur yang akan menyatakan kebenaran yang sesungguhnya. Tentang keadaan hidup kita. Kondisi kehidupan di alam nyata dalam sudut pandang keimanan. Yakni tentang bagaimana kondisi kita beserta seluruh manusia yang mengikrarkan diri untuk hanya menyembah Illah yang satu. Serta mengimani seorang manusia bernama Muhammad (SAW) sebagai nabi-Nya sekaligus penutup semua utusan-Nya yang pernah hadir ke bumi.

shf-sholat

Benar. Ini tentang anda, saya, dan kita sebagai muslim. Lebih tepatnya, keadaan hidup kita; jamaah muslimin. Terutama di bangsa yang kita injak-injak pulaunya. Tentang makanannya, finansialnya, kesehatannya, pendidikannya, kekuatannya, serta tentang ibadahnya.

Tentu kita akan temui begitu banyak permasalahan dengan ragam yang tidak sedikit. Bahkan bertingkat-tingkat dan berkasta-kasta. Mulai dari masalah sederhana, sampai problematika dengan tingkat kompleksitas tinggi. Yang terus menerus kita temukan hampir di setiap jengkal bumi tanah air. Dengan segala turunan atau derivasi masalah yang hadir.

Jika menengok makanan anak-anak kita, terutama di sekolah-sekolah mereka. Gizi yang diperlukan benar-benar jauh dari sebuah kata pantas. Ini tidak berarti apa yang dimakan anak-anak kita semuanya buruk. Tapi, makanan yang disajikan hanyalah sebuah alat untuk mengeyangkan perut, bukan membesarkan akal sampai mereka mengenal Rabbnya dengan baik. Padahal sesungguhnya pendidikan yang Islami, merupakan sebuah kurikulum pendidikan yang membuat pelaku belajar menjadi semakin mengenal Rabbnya dengan lebih benar dan tepat.

“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq ayat 1-5)

Lewat rangkaian ayat di atas, seakan Allah SWT ingin menyatakan bahwa hanya Dialah yang mampu mendidik anak-anak kita. Dan tentu saja juga diri kita selaku orang tua. Bahkan Dia berjanji untuk mendidik manusia atas apa yang mereka tidak pernah ketahui sebelumnya. Keyakinan inilah yang membuat salah satu guru kita, Muhammad Natsir, yakin betul dengan prinsip taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, akan semakin membuatnya paham akan ilmu dan pandai dengan lebih cepat.

“Bertakwalah kepada Allah (maka) Allah (akan) mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah ayat 282)

Begitu pula dengan masalah keuangan orang-orang Islam. Atau dalam konteks ini, boleh kita sebut kekayaan. Yang sering kita temukan di sekitar kita, adalah kekayaan yang berkumpul pada orang-orang tidak beriman. Sekaligus kenyataan bahwa orang-orang beriman hidup dengan kesederhanaan yang sangat – jika tak boleh mengatakan hal yang demikian itu adalah kemiskinan.

Kemudian, apa yang sebenarnya terjadi? Tentu ada yang salah dengan kenyataan ini. Seharusnya orang-orang beriman adalah pemenang. Baik di dunia, terlebih di akhirat. Tentu jawabannya tidak akan mudah dan tunggal. Bahkan, yang lebih mendasar lagi adalah, mungkin saja kita tidak tahu jawabannya. Jawaban, apalagi solusi atas semua masalah yang sering kita – dan semua orang Islam hadapi.

Namun, jikalau boleh sedikit mengusulkan sebuah masalah, agar kita tahu apa yang sedang kita hadapi, tengoklah ritual kebersamaan kita, sholat berjamaah. Bagaimana shafnya. Bagaimana kondisinya. Bagaimana kerapiannya. Bagaimana soliditasnya. Dan bagaimana pelaksanaannya.

Allah SWT melalui firman-Nya sangat menginginkan kita menjadi generasi dan jamaah manusia yang terbaik dengan melakukan tiga hal. Yaitu melakukan kebaikan demi kebaikan, mencegah diri dan manusia yang lain untuk berbuat kerusakan dan kemungkaran, serta mengajak diri sendiri beserta orang lain untuk beriman kepada-Nya. Sebagaimana ayat berikut ini:

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran ayat 110)

Dikarenakan hal besar yang harus diemban oleh setiap orang beriman, maka Allah SWT memberikan lagi rambu-rambu penjelas untuk mampu mewujudkan cita-cita sekaligus tugas tersebut. Yaitu pada ayat berikut:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaaf ayat 4)

Benar. Tugas tersebut tak bisa dilakukan sendiri. Apalagi dengan tindakan-tindakan yang saling bertabrakan. Karenanya, marilah kita berkaca pada kerapian shaf yang Rasulullah SAW ajarkan. Mari membangun kemesraan di antara orang beriman. Hindarilah perdebatan yang akan membuat perpecahan, perselisihan, saling benci, dan hilangnya kasih sayang di antara kita. Mari saling mencintai sesama orang beriman dengan sebesar cinta mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena perbedaan-perbedaan yang sesungguhnya tidak substansial. Agar umat islam menjadi ummatan wahidah (umat yang satu). Sehingga setiap gerak kita bertujuan untuk membuat hanya Allah SWT saja sebagai sesembahan di langit. Juga di bumi. Mari mencintai. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *