Home / Artikel Haji / Islami / Kesholihan Sosial

Kesholihan Sosial

Mari kita simak bersama sebuah dialog kecil antara seorang ibu dengan guru kita bersama. Dialah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Kebijaksanaan dan ketenangan yang diiringi ketepatan verbalistik perlu kita tiru sebagai umat Islam yang baik.

kesholihan sosial

Ibu :”Buya…tetangga saya, udah haji, berkali-kali malah, rajin sekali ke masjid. Sholat wajibnya pas sekali. Tapi kok dia juga yang nomer wahid kalau ngomongin tetangga. Dia juga yang suka marah-marah ke sekitar rumah, padahal hanya masalah sepele. Sedangkan Buya, ada tetangga saya di seberang gang, bukan muslim, tapi santun sekali. Suka ngasih makanan ke rumah saya dan tetangga yang lain. Suka nolongin orang, suka main bareng sama anak-anak tetangga. Ramah sekali Buya. Kok bisa begitu ya Buya ?”

Buya :”(sambil tersenyum) Ibu yang baik, alhamdulillah. Sholat itu mencegah kita dari perbuatan yang keji dan munkar. Untung lho bu, si haji tadi masih baik sholatnya. Kalau saja haji tadi berhenti sholat, mungkin dia tidak hanya sering marah-marah ke tetangga sekitarnya. Bisa-bisa orang di sekitarnya “dimakan” Bu. Jadi alhamdulillah si haji tadi masih sholat Bu. Sedangkan tetangga Ibu yang belum muslim itu, belum jadi muslim saja sudah sebaik itu. Bayangkan kalau orang itu sudah jadi muslim, terus rajin sholat. Pasti makin bagus kan?”

Entah anda memposisikan diri anda sebagai Buya atau orang yang dibicarakan oleh Buya. Itu tak jadi masalah. Kita bisa mengambil sendi-sendi hikmah di antara rangkaian tulang punggung cerita di atas. Namun, secara ikhlas, rasanya ada pertanyaan yang harus dijawab. Apakah benar kita – anda dan saya, adalah termasuk tokoh “haji” di cerita tersebut.

Hidup yang kita hiasi dengan ragam ibadah ternyata berdampak tidak tepat pada keseharian hidup. Keseharian kita yang penuh gerakan religius malah menumbuhkan duri sosial. Sehingga orang lain tidak mau mendekat, apalagi mencium aroma keshalihan yang seharusnya menentramkan, mengamankan.

Dan akhirnya kita mulai bertanya-tanya, kenapa, apa, dan bagaimana. Tepatnya kenapa hal seperti ini terjadi. Apa sebabnya. Bagaimana penyelesaiannya. Normal memang jika butiran pertanyaan seperti itu sekarang ber-sliweran di lintasan benak kita. Semua kandidat jawaban boleh masuk. Termasuk kemungkinan dari seorang bijak yang menyampaikan bahwa kebanyakan dari kita hanya “kita hanya melihat tekstual tanpa melihat kontekstual”.

Sebagai contoh, kita seimak bersama cuplikan surat Al Maa’uun 
“tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Tentu arti dari ayat di atas dengan mudah mampu kita pahami. Tapi sentral maksudnya, belum tentu kita mengerti. Ada makna hakiki yang harus diwujudkan dalam keseharian amal. Lewat ayat di atas, kata tanya yang dihasilkan bukanlah apa, tapi berapa. Berapa jumlah anak yatim yang kita selamatkan. Atau minimal tidak kita hardik. Juga berapa sering kita menganjurkan diri kita sendiri memberi makan orang yang membutuhkan makan.

Pembaca sekalian, semoga dengan ilustrasi di atas, kita semakin mampu memaknai apa maksud Allah SWT lewat tuntunan firman-Nya dan sabda nabi-Nya. Sehingga keindahan demi keindahan akan terus mekar dalam kuntum pribadi muslim yang mukmin, juga muhsin.  Wallahua’lam. (AA)

Kata populer:

  • perlengkapan manasik haji

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *