Home / Artikel Haji / Islami / Madrasah anak yang pertama adalah orang tua

Madrasah anak yang pertama adalah orang tua

Tentang anak-anak kita. Anak-anak anda dan saya. Keturunan yang menjadi amanah dari Allah SWT kepada kita. Sekaligus menjadi peluang tergelincirnya kita dalam jalan kebenaran. Maka bersabarlah untuk terus menikmati tawaran kami dalam pembinaan dan pendidikan anak-anak kita.

membaca-alquran

Buah hati kita, anak-anak kita, memang menjadi pelengkap kebahagiaan yang tak pernah bisa tergantikan. Layaknya posisi kedua orang tua yang hingga waktu berakhir, ‘jabatan’-nya tak bisa diganti. Jika ada mantan suami atau mantan istri, maka tak akan pernah ada mantan ayah, mantan ibu, apalagi mantan anak. Bahkan Allah berikan kepada kita keturunan tidak hanya sebagai penerus keturunan di dalam silsilah keluarga, namun juga untuk meneruskan aturan fitrah berupa penyembahan Allah secara utuh di setiap dimensi kehidupan.

Begitulah salah satu hikmah yang bisa kita petik dari kehidupan keluarga Ab Al Anbiya (Bapak para nabi); Ibrahim alaihissalam. Pergulatannya di dalam mencari ide ketuhanan sejak usia muda, membuat Ibrahim memiliki staminan ketauhidan yang bugar serta prima. Pembuktian ketaatan pun dilalui dengan sempurna melalui peristiwa pembiaran sementara kepada Siti Hajar dan Ismail kecil. Ditambah dengan catatan sejarah ketundukan utuh Ibrahim terhadap perintah Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangan semata wayang saat itu, Ismail.

Maka Allah pun memberi ganjaran yang begitu mulia dan termuliakan. Dari benih Ibrahim alaihissalam lahirlah generasi yang patuh, taat, dan tunduk terhadap semua ketentuan Allah SWT. Selain Ismail, Allah anugerahkan Ya’qub serta Ishak alaihissalam untuk menjadi pelayan-Nya. Kemudian terus beranak-pinak hingga sampai pada sang nabi penutup dan imam semua nabi; Muhammad SAW.

Jika kita ambil pelajaran kecil dari fakta ini, tentu kita akan bertanya kepada diri kita sendiri dengan sebuah pertanyaan retoris,”Siapa yang tak mau seperti Ibrahim, dengan keturunan baik dan sholih?”. Sehingga, kita mulai sedikit demi sedikit, dengan segala kemampuan yang terbatas untuk mengkonstruksi kesholihan putra dan putri kita. Mulailah kita didik mereka, disekolahkan, di-TPA/TPQ-kan, dan berbagai cara yang lain. Tak ada tujuan yang ingin dicapai, kecuali membentuk kepribadian sholih kepada anak-anak kita.

Akan tetapi, saudaraku yang mulia, kesibukan untuk menyusun kebaikan anak-anak kita sering membuat kita terlupa kepada hal-hal utama. Yaitu bahwa madrasah pertama dan utama anak-anak kita adalah orangtuanya. Dengan alasan kesibukan mencari nafkah untuk keperluan anak-anak kita, sering kali mereka malah terlupakan. Sehingga kita lebih giat untuk “menggunakan kapak sebagai penebang kayu” daripada “mengasah ketajaman kapak” itu sendiri.

Berhentilah kita untuk belajar dan berusaha agar diri kita – selaku orang tua, tetap menjadi sholih. Sehingga kesholihan itu bisa memancar terang dan menyinari hati keturunan kita. Mari berkaca diri, berapa ibu yang dengan setia mengantarkan anak-anaknya belajar membaca alquran, sedangkan sang ibu sendiri jarang sekali membaca alquran di rumahnya. Bahkan mungkin jika tak ada tradisi tadarusan di masjid-masjid kita saat ramadhan, entah kapan lagi mereka membaca alquran. Atau, seberapa sering para ayah meminta, memerintahkan, bahkan memaksa putra-putrinya untuk sholat tepat waktu, sedangkan sang ayah justru asyik berbicara dengan tamu ketika adzan berkumandang.

Model perilaku ini sesungguhnya yang selalu menjadi contoh terbaik dalam memori anak-anak kita. Sehingga, sering kali kami temukan, para orang tua yang merasa kalimat-kalimatnya tak didengarkan oleh anak-anaknya. Rasanya, kalimat itu meluncur tanpa sebuah subjek keteladanan dan objek kasih sayang. Sehingga kaburlah kewibawaan para orang tua di mata buah hatinya. Karenanya, tak ada jalan lain. Kita sebagai ornag tua harus selalu berbenah diri. Agar kebaikan dan ketenangan (sakinah) keluarga kita lebih mudah diturunkan oleh Allah SWT.

Kedua, marilah menyimak apa yang telah diperintahkan oleh Rasul yang mulia. Peringatan yang khusus disampaikan untuk bagian muka kita bernama lisan. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam. (HR. Bukhari)

Kami temukan banyak orang tua yang kesulitan untuk mempraktekkan hadits ini kepada anak-anaknya. Tak jarang setiap kata yang disampaikan untuk mendidik anak justru kalimat-kalimat pembunuhan. “Jangan rewel, nanti mama pukul kamu”, “udah ayah bilang kan, jangan main di sana…..bodoh kamu”, “anak siapa sih kamu ini, bandel banget”, dan kalimat-kalimat pembunuhan yang lain justru yang paling sering kita lontarkan kepada mereka bukan.

Padahal, kalimat yang terus berulang akan sangat mempengaruhi psikologis anak. Baik, ataupun buruk jenis kalimat itu. Saudaraku, kami tidak sedang menggurui anda dalam mendidik anak-anak anda. Tapi kami sedang mengajak anda untuk berpikir logis. Jika ingin membentuk keturunan yang sholih, apakah harus melalui cara yang jauh dari makna kesholihan itu sendiri. Ibarat ingin menuai padi dengan menanam sawi busuk. Maka tak akan pernah terjadi panen raya yang berlimpah. Tak akan datang butir demi butir ketenangan jiwa. Apalagi hidangan kemenangan yang lezat dan menggiurkan.

Maka, marilah kita lagi dan lagi berbuat lebih baik dalam mendidik diri dan keturunan kita. Agar Ismail,  Ishak, Yaqub modern hadir dari keluarga kita yang meski sederhana, namun kaya dengan kesholihan. Hingga akhirnya, semoga dari garis keturunan kita, pribadi Muhammad bisa terwujud. Amin. Wallahua’lam. (AA)

Kata populer:

  • makalah tentang keluarga adalah madrasah pertama

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *