Home / Artikel Haji / Islami / Mengambil Ibroh dari bulan

Mengambil Ibroh dari bulan

Tidak pernah ada kesia-siaan yang hadir dari setiap ciptaan Allah SWT. Itu yang termaktub dalam firman-Nya.

“Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran ayat 191)

bulan

Bahkan dalam beberapa kesempatan, Allah SWT menyatakan sumpah atas nama makhluk-Nya. Sebut saja Al ‘Ashr (waktu atau masa), Adh Dhuha (waktu dhuha), Al Layl (waktu malam), Asy Syams (matahari), Al Qomar (bulan), dan masih banyak lagi. Para mufassirin (ahli tafsir Alquran) menyatakan bahwa jika Allah SWT bersumpah menggunakan nama makhluknya, maka kedudukan makhluk tersebut sangatlah penting. Bahkan hasil tinjauan Imam Syafii terhadap surat Al ‘Ashr menunjukkan urgensi waktu (masa) di dalam kehidupan manusia melalui kalimat berikut ini :

“Andaikan saja Allah SWT tidak menurunkan surat selain ini (Al ‘Ashr), maka itu sudah lebih dari cukup sebagai tuntunan hidup manusia”

Karenanya, tugas kita hari ini hanyalah iqro dengan benar. Dengan segala makna membaca yang terkandung di dalamnya. Mengenali, menganalisa, memahami, mencari fakta, membuat hipotesa, dan berbagai derivasi dari membaca sudah selayaknya menjadi kebiasaan kita sebagai hamba Allah. Ini bukan pekerjaan para peneliti, dosen, guru besar, atau profesor sekalipun. Ini tugas setiap dari kita yang menyatakan diri beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan-Nya.

Termasuk pada kejadian atau benda alam yang kita temui di dalam kehidupan. Salah satunya bulan. Kehadirannya, menjadi inspirasi perhitungan almanak hijriah. Fungsi sebagai satelit bumi dan pengelolaan pasang surut air laut memang sering terbahas apik. Tapi, saudaraku, marilah kita lebih luas dalam mengambil hikmah dan pelajaran yang diberikan oleh makhluk Allah yang satu ini.

Awal kehadirannya, tampak malu-malu. Kecil, tipis, dan berbentuk sabit. Makin hari makin tampak membesar. Indah dan bersahaja. Memuncak saat penampilan sempurnanya yang sering kita kenal sebagai bulan purnama. Setelahnya, setahap demi setahap mulai meninggalkan peraduannya dengan tenang, tanpa meresahkan dan membuat gaduh. Hingga akhirnya tak tampak meski peran dan fungsinya tak tergantikan.

Setidaknya itu yang harus kita contoh dari bulan. Kita berawal dari bukan siapa-siapa. Kita hanyalah orang kecil yang dibesarkan dalam keluarga yang kecil. Hadir dari kota yang kecil dengan pengetahuan yang kecil pula. Tapi kemudian kita mengimani Allah. Bertaqwa padanya. Maka Dia yang membesarkan kita. Mengangkat kita untuk memiliki kebesaran-kebesaran duniawi. Hingga sampai pada puncak karir kita sebagai manusia beriman.

Puncak karir kehidupan ini sangat dipengaruhi oleh sebuah indikator; kebermanfaatan. Bertambahnya usia, selayaknya berbanding lurus dengan kemanfaatan yang memancar dari diri kita. Ibarat bulan yang menuju purnama. Semakin terang, mempesona, dan menyinari banyak makhluk yang perlu pelita di pekatnya kegelapan malam. Jikalau boleh lancang kami menantang pembaca yang budiman, secara jujur berapa jauh radius kemanfaatan yang sudah dipancarkan. Tentu saja ini dimulai dari jarak yang terdekat hingga area terjauh dari ruang geografis kita. Jangan sampai terjadi anomali akhlak yang cukup membingungkan. Misalnya, nilai kemanfaatan kiat begitu besarnya di sebuah pesantren luar kota, tapi tak pernah tahu bahwa ada tetangga yang kesulitan untuk makan setiap hari.

Kemudian setelah puncak kemanfaatan diraih, ibarat purnama, turunlah kita secara perlahan. Sangat perlahan. Bahwa kita harus meninggalkan kebesaran-kebesaran itu. Pada tahap ini, kebesaran tadi hanyalah amal shalih yang nantinya bisa kita banggakan di hadapan Allah SWT. Bukan di hadapan manusia.

Maka tak pantaslah kita memiliki rasa senioritas berlebihan dalam memandang keadaan. Bahwa kita seakan lebih tahu daripada orang lain sebelum kita. Hingga merasa direndahkan jika tak lagi menjadi imam shalat. Sakit hati saat tergantikan dari jabatan ketua DKM atau pengurus masjid. Merasa rendah saat ada tetangga lebih muda yang menjadi khotib di mimbar jumat, sampai-sampai tak mau mendengarkan hikmah dan  tausiyah darinya. Naudzubillah, tsumma naudzubillah.

Bulan mengajarkan kita untuk meninggalkan kehidupan dengan cara yang sangat santun. Halus, tanpa gaduh, tak merepotkan, tapi tetap berperan. Begitulah seharusnya diri ini berlaku. Penuh kesan. Meringankan. Menyenangkan. Penuh kenangan. Mari terus berusaha untuk mempersiapkan diri menjadi sebanyak-banyaknya pintu kemanfaatan, menebarkan manfaat diri, dan meninggalkan kehidupan dengan penuh kebaikan yang tak pernah dilupakan. Mari. (AA)

 

Kata populer:

  • bulan purnama
  • purnama
  • gambar bulan purnama

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *