Home / Artikel Haji / Islami / Menjaga Lisan

Menjaga Lisan

Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)

Rasanya, jika kita melihat hadits di atas, kita akan sedikit lebih mudah untuk mengambil keputusan. Yakni, tidak terlalu susah kiranya untuk memasuki syurga Allah SWT. Cukup dengan memelihara mulut atau lisan. Serta kehormatan diri yang sering tergelincir melalui kemaluan.

menjaga-lisan

Namun, tentu saja bukan tanpa maksud kalimat peringatan dari Rasulullah SAW di atas tertuju kepada kita. Maksud penjagaan yang ingin diberikan Rasulullah SAW kepada kita, haruslah menjadi perhatian khusus. Tidak boleh terabaikan. Karena hal tersebut sangat penting. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri berani menjamin masuknya kita ke dalam syurga jika mampu dengan baik, cermat, dan bijak memelihara lisan.

Saudaraku, marilah kembali kepada hari kemarin. Mulai dari bangun tidur, beraktivitas, bercengkerama, berinteraksi dengan banyak orang dan keluarga, kemudian sampai pada proses tidur kembali. Jika kita ingin secara jujur mencermati lisan kita, bagaimana perilakunya? Apakah sesuai dengan apa yang Rasul jaminkan di atas? Atau justru jauh dari nuansa penjagaan yang baik dengan penuh dusta dan kebohongan?

Atau, tariklah memori kita ke satu minggu, satu bulan, dan satu tahun yang lalu. Adakah konflik serius yang terjadi dengan kita dan kolega? Yang jika diteliti ternyata terjadi hanya karena lisan yang kepleset dalam menyampaikan maksud hati. Sehingga muncullah ketersinggungan yang memicu kemarahan pendengar. Terjadilah keributan, cek cok, dan masalah-masalah yang lain.

Pertanyaan berikutnya untuk setiap diri kita, bagaimana nilai kebermanfaatan atas setiap kata yang keluar dari lisan kita? Apakah “berisi” dan “bergizi” untuk didengarkan orang lain? Atau bahkan penuh bualan rendah yang membuat diri kita semakin rendah. Baik di hadapan sesama kita, terlebih lagi di hadapan Allah SWT.

Bagaimana seharusnya

Hadirnya Rasul SAW sebagai penutup risalah sesungguhnya telah memberikan arahan yang jelas kepada kita semua tentang akhlak. Sebagaimana sebuah hadits berikut:

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)

Termasuk tentang mengatur lisan kita agar menjadi jalan kebaikan dan kemuliaan. Bukan menjadi media yang efektif untuk menuju kehancuran diri hari ini dan di waktu yang akan datang. Beberapa rambu yang bisa kita gunakan di dalam memelihara lisan setidaknya adalah sebagai berikut:

  1. Berpikir dulu sebelum mengeluarkan kata.

Bicara memang alat yang efektif untuk menyampaikan maksud hati kita kepada orang lain. Tapi jika kata yang keluar dari lisan tak nyaman didengar oleh lawan bicara, yang terjadi adalah hal kontraproduktif. Tidak hanya akan terjadi kesalahpahaman, bahkan bisa jadi pertengkaran yang berkepanjangan. Oleh karenanya, marilah untuk berpikir dulu atas setiap kata yang akan keluar dari lisan kita. Agar setiap maksud penjelasan kita yang tertuju kepada lawan bicara tidak menjadi sumber kesalahpahaman. Jika kita menghitung setiap kata yang keluar, maka insya Allah lebih mudah untuk mengontrol dan memelihara lidah dari peluang keburukan yang terjadi.

  1. Tidak banyak bicara

Berlebihan, dalam segala hal, adalah ciri seorang pecundang. Termasuk berlebihan dalam berkata-kata. Hal ini akan sangat mudah membuat lisan kita melakukan kesalahan. Oleh karenanya, mari membiasakan diri untuk berkata dengan tujuan yang penting saja. Tidak mengumbar kata seperti yang Rasul SAW peringatkan kepada kita melalui hadits berikut ini:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai banyak bicara, menghambur-hamburkan harta dan terlalu banyak bertanya. (HR. Bukhari)

  1. Menghindari perkataan yang sia-sia, kotor, dusta dan keji, meski di dalam gurauan.

Muslim yang baik, selalu berpikir untuk memanfaatkan waktu dengan amal-amal shalih. Bukan menghabiskan waktu dan kesempatan untuk hal yang tak berguna. Apalagi melakukan keburukan dan kemaksiatan yang akan membuat bertambahnya catatan buruk tentang amal kita. Di dalam hal ini, termasuk kata-kata kotor dan merendahkan. Tentu tak pantas jika maksud Rasul yang hadir di bumi untuk menyempurnakan akhlak umatnya, kita balas dengan akhlak dan adab lisan yang jauh dari maksud itu.

Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji, yang berkata kotor dan membenci orang yang meminta-minta dengan memaksa. (AR. Ath-Thahawi)

Oleh karenanya, mari kita berusaha sebaik-baiknya untuk menjaga untaian lisan. Perhitungkan benar apa yang akan keluar dari lisan kita. Jadikan lidah di dalam mulut kita sebagai jalan kemuliaan dan jalan perantara kebaikan untuk orang lain. Mari mulai dari diri kita sendiri, secara sederhana dan dari orang-orang terdekat kita. Dan yang terpenting adalah, mulai sekarang juga! (AA)

Kata populer:

  • hadits menjaga lisan

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *