Home / Artikel Haji / Islami / Menyatakan yang Ghaib

Menyatakan yang Ghaib

Sangat pantas dan patut kita bersyukur. Karena telah ditunjukkan jalan yang benar-benar terang dan lurus. Jalan yang membuat kita semua menjadi manusia yang sesungguhnya. Tidak setengah-setengah, abu-abu, atau beranomali dalam menghadapi kehidupan. Penuh kejelasan. Penuh kepastian. Penuh keyakinan; Islam.

Ide tentang cara menjalani hidup secara islami, sungguh membuat kita manusia yang integral. Setiap muslim yang baik, seharusnya memahami kehidupan ini adalah sebuah bentuk kerja investatif untuk akhirat. Namun tidak boleh kiranya melupakan kemenangan dan kesuksesan dunia.

“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash ayat 77)

Integralitas (kelengkapan) manhaj (metodologi) di dalam Islam juga menggabungkan dua hal besar. Hal-hal ghaib dan kenyataan yang jelas. Tidak ada dikotomi yang kaku di antaranya. Sehingga tidak benarlah jika ada seorang muslim mengambil Islam dari sisi keghaibannya saja. Seperti apa yang dipahami oleh beberapa bagian kaum muslimin di Indonesia. Jadilah mereka ahli mistis. Mencoba taqarrub melalui makhluk-makhluk beda dimensi. Menganggapnya lebih afdhol  ketimbang manusia. Bahkan mulai terjebak untuk menyembahnya dan mempraktikkan kesyirikan. Padahal, seperti yang kita tahu bersama, manusialah sebaik-baik ciptaan Allah SWT. dengan sebuah tugas khusus untuk menjadi “perpanjangan tangan-Nya”, khalifah.

“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. AL Baqarah ayat 30)

Atau, anomali lawannya. Ada gelombang  manusia yang menghadapi kehidupan ini dengan kekuatan kenyataan pikirnya. Bahwa semua yang terjadi merupakan kausalitas murni. Tanpa adanya intervensi dan campur tangan Allah SWT. Sehingga kuranglah keyakinannya kepada Allah SWT. Justru keyakinan sejati ini digantikan oleh ikhtiar-ikhtiar semu yang membuatnya semakin lemah keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT.

Saudaraku, simaklah pengumuman dari Allah SWT berikut ini.

“Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Baqarah ayat 1-5)

Setidaknya dari kalimat demi kalimat di atas, kita mampu memahami apa yang dimaksudkan Allah SWT kepada kita untuk menjadi manusia yang utuh, sempurna, dan integral. Pertama, Alquran hanya bisa dijadikan petunjuk bagi orang-orang yang berstatus dan berkarakter taqwa. Kedua, lewat ayat di atas, penjelasan ketaqwaan adalah mengimani, mempercayai hal-hal yang ghaib. Meyakini bahwa ada hal-hal yang tak bisa kita tangkap inderawi. Dan kejadian-kejadian yang tak mampu kita ketahui secara nalar pikir. Namun semua hal itu berjalan secara pararel dan sinergis dengan pengaturan sempurna dari Allah SWT. Konsekuensi logisnya, jika kita tak mau meyakini hal ini, berarti kita telah mulai keluar dari karakter orang-orang beriman.

Berikutnya, keyakinan terhadap yang ghaib itu tidak menghalangi orang-orang bertaqwa untuk tetap aktif dan giat mengerjakan sholat sebagai tameng keimanan individual. Kemudian disejajarkan dengan memberikan perhatian kepada manusia lain secara sosial melalui perintah menafkahkan sebagian rezeki yang dimilikinya. Sehingga kebaikan dan kesholihan setiap muslim selalu bersifat ekspansif. Artinya mensholihkan lingkungan eksternalnya. Wa bil khusus keadaan saudara-saudaranya seiman.

Rangkaian penjelasan di atas ditutup lagi dengan keyakinan terhadap adanya alam akhirat. Sesuatu yang masih ghaib untuk kita semua. Lengkaplah sudah Allah SWT memerintahkan kita untuk menjadi manusia yang paham tujuan hidup (di akhirat) dengan tetap menjadi pesona tak terbayangkan di dunia. Saudaraku, mari menjadi pemenang yang utuh. Mari! (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *