Home / Artikel Haji / Islami / Menyikapi Panggilan Adzan

Menyikapi Panggilan Adzan

Kejadian ini mungkin pernah atau bahkan sering anda alami. Tapi kami harap pembaca sekalian tetap berkenan untuk setia membaca tulisan ini hingga akhir. Setidaknya dua kejadian yang begitu membekas dalam benak kami. Di suatu malam ramadhan, setelah beberapa jam menaiki kendaraan roda dua, kami berkesempatan untuk shalat isya sekaligus tarawih di sebuah masjid yang besar, megah, dan agung. Berhadapan dengan banyak taman bunga yang dihiasi juga kerlap-kerlip lampu hias.

Begitu banyak orang berada di sekitar masjid dan taman. Bersama dengan teman dan mungkin keluarga. Meski juga tetap ada muda-mudi yang bercengkerama dengan maksud yang buram. Adzan pun berkumandang. Merdu sekali. Kami yakin semua orang yang ada di sana pasti mendengar suara itu. Maka kebingungan mulai hadir dalam benak kami. Hampir tak ada satu pun manusia yang beranjak menuju masjid dan menyambut panggilan adzan tadi.

Kejadian kedua tak begitu berbeda dengan kisah di atas. Sebuah masjid sederhana. Saat itu kami melihat sebuah keluarga yang tinggal di rumah yang berdampingan langsung dengan masjid. Kami sempat melihat ada hiasan kaligrafi di ruang tamu rumahnya. Mereka bercengkerama, berkumpul, bersenda gurau, atau apalah nama kegiatan yang bisa mewakili aktivitas berkumpul keluarga. Saat adzan berkumandang, tak juga satu pun dari mereka (terutama kaum laki-laki) untuk beranjak hadir di masjid. Bahkan saat iqamah shalat dilantunkan, masih terdengar suara gelak tawa dari keluarga tersebut. Sedangkan ada seorang ayah dan anak laki-laki, kami yakin rumahnya lebih jauh dari keluarga yang kami sebut sebelumnya. Mampu hadir dengan begitu cerianya di rumah Allah. Dengan pakaian bersih, rapi, meski tak bisa dikatakan mewah.

Kami kemudian mencoba sedikit berpikir tentang dua kejadian ini. Bukankah perintah shalat adalah yang paling agung dalam catatan sejarah keagamaan kita. Jika ibadah yang lain cukup di-“SK”-kan lewat firman Allah yang disampaikan Jibril kepada Rasul SAW, bukankah perintah shalatlah satu-satunya yang membuat Nabi SAW harus berangkat sendiri dengan jasad dan ruhnya menghadap Allah rofiqul a’la ? Karenanya shalat selayaknya menjadi perintah utama yang tak boleh diremehkan sama sekali.

Kenyataan ini juga dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW yang didokumentasikan dengan apik oleh Ibnu Hajar Al Ashqolani dalam kitabnya Bulughul Maram, diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebuah dialog antara Rasul dengan seorang laki-laki muslim buta.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Ada seorang laki-laki buta menghadap Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan berkata: Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak mempunyai seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka beliau memberi keringanan padanya. Ketika ia berpaling pulang beliau memanggilnya dan bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan untuk sholat?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Kalau begitu, datanglah.”

Senada dengan itu, para sahabat pernah menyepakati satu hal tentang menghukumi kemunafikan orang-orang islam di Madinah. Kalimat yang terdokumentasi dalam kitab “Fadhilah A’mal” menyatakan bahwa para shahabat tidak memiliki keberanian untuk menghukumi seseorang masuk kategori munafik sampai orang tersebut lalai dalam ibadah sholat.

Setidaknya dua fakta di atas, lebih dari cukup sebagai bukti untuk mengutamakan panggilan Allah SWT (baca : shalat) ketimbang aktivitas yang lain. Tidaklah pantas kita sebagai hamba Allah yang dijaga, dipenuhi segala kebutuhan, dan diberi petunjuk oleh-Nya lebih mendahulukan hal lain. Bahkan dalam pemahaman etika sosial pun, sangat tak sopan jika kita mengabaikan orang-orang yang telah berjasa dalam membantu kehidupan kita bukan?

Namun, pada akhirnya, perenungan sederhana kami berhenti pada suatu hikmah. Bijak, arif, menenangkan. Bahwa segala tindakan yang bermaksud mendekatkan diri kepada Allah SWT membutuhkan landasan dasar yang menjadi ide pokok dan semangat. Kita sering menyebutnya dengan istilah hidayah. Sebesar apapun tenaga, sebanyak apapun fasilitas ibadah, semudah apapun kesempatan yang hadir, tanpa hidayah, semua tak akan berarti. Maka marilah menjaga hidayah yang sudah sampai pada qalbu kita. Agar ia tak rusak, rapuh, kemudian hilang. Naudzubillah. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *