Home / Artikel Haji / Islami / Menyikapi Perintah Allah

Menyikapi Perintah Allah

Sebuah kesempatan menuntut anda untuk meminta pertolongan anak-anak. Saat mereka bermain, kita panggil. Kemudian anda menyodorkan selembar kertas yang berisi daftar barang atau keperluan yang harus didapat. Kemudian, dengan beberapa lembar rupiah, anda mempercayakan sang anak untuk membelinya. Cerita pun dimulai dari sini.

Al Quran petunjuk hidupku

Ada empat tipe anak yang merespon perintah anda. Pertama, si anak bandel. Tidak ada upaya mengindahkan perintah yang anda sampaikan. Permintaan yang anda lontarkan ternyata tak mampu membuatnya untuk bergerak memenuhi apa yang anda inginkan. Dunia permainan sepertinya memang terasa lebih menarik daripada sekedar menyisihkan waktu untuk membantu anda, sang orang tua. Dan apa yang terjadi ? Setidaknya satu dari dua. Anda memberi ancaman kepada sang anak untuk pergi melaksanakan apa yang anda inginkan atau anda memberikan iming-iming berupa imbalan yang menarik hati sang anak. Meski dengan dua jenis reaksi berbeda, namun pada intinya, kedua hal tadi mengarah kepada satu tujuan yang sama: agar anak melaksanakan permintaan anda.

Tipe kedua, anak lugu. Kertas yang anda berikan tadi dibacanya pelan-pelan dengan penuh konsentrasi. Berulang-ulang. Sesering mungkin. Namun ternyata, anak kedua ini tidak mampu memahami apa yang tertulis di daftar beli yang anda inginkan. Hasilnya, sang anak kedua pun tidak juga berangkat ke toko untuk membelikan apa yang anda butuhkan. Sehingga, lagi-lagi anda belum berhasil memperoleh kebutuhan anda. Karenanya, mungkin anda akan memanggil sang anak, lalu menjelaskan lagi apa yang tertulis, dan begitu seterusnya dengan harapan sang anak kedua mampu mengerti permintaan anda.

Berbeda dengan kedua tipe di atas, sang anak ketiga memiliki respon yang unik. Setelah dibaca, ternyata perintah yang anda berikan dalam daftar beli, dihafalkan. Terus diulang-ulang, untuk dihafalkan. Namun, setelah beberapa lama, sang anak ketiga tidak juga membawa apa yang anda minta. Karena menurutnya, yang penting adalah menghafalkan apa perintah yang anda maksudkan. Dan tipe yang keempat adalah seorang anak yang tahu. Setelah dibacanya pelan-pelan daftar beli yang anda sodorkan, dimaknainya dengan pemahaman, sembari dihafalkan dengan penuh kehati-hatian, kemudian dia melangkah untuk memenuhi apa yang anda minta.

Pembaca yang budiman, jika diperkenankan kita sedikit beranalogi atas respon kita terhadap maksud Allah SWT, setidaknya keempat tipe anak di atas adalah kita sendiri. Mungkin di antara kita masih ada yang suka untuk mengabaikan apa yang Allah minta. Mungkin ada di antara kita yang memahami perintah Allah dengan cukup membacanya saja. Bisa juga, kita adalah kelompok orang yang mencoba menghafalkan perintah-perintah Allah, namun sayang, untuk sekedar dihafalkan. Atau naudzubillah, jangan-jangan di antara kita ada yang berniat menghafalkan kalamullah sebagai alat untuk pamer keshalihan di antara  manusia. namun, di antara sekian banyak tipe respon kita terhadap perintah-Nya, ada golongan manusia yang memahami perintah Allah dengan sistematik, cermat, dan mengerti apa yang diinginkan-Nya.

Di tipe manakah diri kita, setidaknya hanya anda dan Allah sajalah yang berhak menilai. Namun, jikalau boleh untuk menasihati diri sendiri, mari kita mencurigai keimanan kita yang masih dangkal ini. Sudah seberapa banyak dan sering nafsu serta syahwat kita tunduk atas perintah Dzat Yang Maha Menguasai diri kita ini. Sesering apakah kita mendahulukan dan memuliakan kehendak Allah SWT ketimbang keinginan diri ataupun makhluk yang lain.

Penugasan kita untuk hadir di bumi Allah ini, dengan penuh keyakinan kami sampaikan, pasti memiliki maksud besar. Namun, yang sering kita lupakan adalah maksud itu sendiri. Kita sering memandang perintah Allah dengan pengetahuan “tekstual”, bukan kecerdasan “kontekstual”. Sehingga sering kali, kita tidak merasa terhubung dengan Allah SWT melalui perintah-perintah yang diberikan-Nya. Perintah, yang kita pahami sebagai nuansa syariat, sering kali diartikan sebagai rutinitas tanpa makna. Sehingga bergeraklah kita untuk memenuhinya, namun dengan kekosongan pemahaman akal dan kegersangan jiwa.

Maka, marilah bersama-sama untuk belajar memahami makna hikmah yang terkandung dalam setiap nafas kehidupan yang Allah berikan. Agar kita senantiasa nyambung dengan apa yang Allah maksudkan. Agar ibadah tak lagi penggugur kewajiban. Agar muamalah tak hanya lagi menjadi pelengkap kehidupan. Agar ukhuwah menjadi pengikat antar hamba yang menuju pada-Nya. Dan agar jannah benar-benar membuka dimensi dan cakrawala akal kita untuk semakin meyakinkan, bahwa kita semua menuju ke sana. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *