Home / Artikel Haji / Islami / Naik Turun Iman

Naik Turun Iman

Sering kali kita dapati grafik keimanan kita yang agak unik. Benar, kami sebut unik dengan maksud tidak menyinggung siapapun. Karena jika ‘unik’ terganti dengan ‘aneh’ bisa jadi diantara kita akan langsung mengangkat alis kanan sembari berburuk sangka terhadap apa yang ingin kami sampaikan. Alih-alih maksud tersampaikan, yang ada peluang konflik menjadi terbuka. Tidak, bukan itu yang ingin kami sampaikan.

Iman

Bolehlah sejenak kita untuk menemukan kembali perjalanan iman yang telah kita lalui. Liriklah spion kehidupan imani yang sudah setia menemani sampai perjalanan sejauh ini. Mungkin kita akan menemukan sebuah kenyataan yang baik. Sekian lama dari hidup kita mulai terisi capaian-capaian yang hanya bisa dilalui dengan stamina iman yang kokoh. Bahkan beberapa diantaranya tak teringat sama sekali di dalam bagian memori diri.

Tapi, tidak bermaksud untuk membanggakan diri. Capaian keimanan yang telah kita lalui, seharusnya membuat kita mulai berpikir. Atas tingkatan keimanan yang telah kita miliki hari ini, mengapa masih memungkinankan bagi kita semua – termasuk saya, untuk kembali terjerembab di dalam lubang kehinaan dan kelemahan iman. Seharusnya, dan tentu saja sewajarnya, level keimanan yang tinggi memberikan efek yang besar terhadap prestasi peningkatan iman kita.

Begitulah kiranya. Apa yang kita sebut sebagai iman. Punya karakternya sendiri. Tak bisa diprediksi apalagi diduga-duga tanpa sebab dan landasan pikir yang benar. Dia bisa melejit fantastis ke puncak, namun juga bisa meluncur drastis ke bawah lembah. Namun, jikalau boleh untuk mempelajari iman, setidaknya ada penjelasan tentang alasan kejadian fenomena ini.

Yaitu, bersikap dengan berlebihan. Benar, berlebihan adalah sebuah kata kunci untuk menyibak peristiwa ini. Mari kita sedikit berfantasi. Jika kita, bahkan anak-anak kita ditanya, mau atau tidak diminta untuk memakan eskrim, maka mayoritas dari kita akan menjawab positif: MAU! Namun, jika pertanyaannya sedikit diubah, mau atau tidak diminta memakan eskrim SATU DRUM dalam waktu yang sama dengan kasus pertama, tentu jawaban akan sangat berbeda dengan apa yang tadi kita sampaikan.

Setidaknya contoh di atas sedikit memberi bukti bahwa manusia memiliki daya tampungnya masing-masing. Termasuk pada bab keimanan. Jika berlebihan, akan menghadirkan masalah baru. Iman boleh kita bayangkan sebagai sebuah ruang di perut. Semua makanan boleh masuk, asal terjamin kehalalan dan kebaikannya (thoyib). Perut yang tak berisi tentu akan menimbulkan masalah dalam aktivitas kita. Tidak ada sumberdaya yang kita gunakan untuk mengisi kekuatan. Namun, jika hampir semua makanan masuk dalam jumlah besar dan relatif bersamaan, hal ini bisa jadi lebih petaka daripada perut tak terisi.

Sehingga, seperti perut yang harus diisi dengan makanan, hati kita harus diberikan asupan gizi ruhiyah yang halal dan thoyib. Halal dalam arti terjamin sumbernya. Dan thoyib dari pemahaman sesungguhnya. Dengan proporsi yang cukup. Tidak kurang, tidak melebihi muatan. Agar hati dapat bergerak dengan lincah. Tidak terpaku lemah oleh penyakit kekurangan gizi. Dan juga tidak sulit bergerak bebas karena besarnya muatan yang harus dipikul.

Karenanya, mari kita perhatikan asupan gizi untuk hati kita. Jauhkan dari sikap berlebihan dalam dua hal, yaitu dalam beribadah (dien) dan dalam hal-hal yang mubah. Jangan memberat-beratkan apa yang telah Allah SWT perbolehkan. Tapi juga tidak terlalu bebas dalam menggunakan karunia Allah. Tetaplah zuhud dalam menggunakan nikmat-Nya. Iringi dengan bersyukur. Dan akhiri dengan sikap wara’ pada Dia; Sang Penguasa. Dengan begitu, kita bersikap sewajarnya. Dan akan tercipta keharmonisan yang membuat stamina iman mampu bekerja lebih baik dan menghadirkan cinta pada setiap aktivitasnya. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *