Home / Artikel Haji / Islami / Ramadhan Sebentar lagi

Ramadhan Sebentar lagi

Tentu indah. Di saat kita semua melakukan ketaatan dengan baik di setiap detik nafas dan hidup kita. Sekiranya itu yang kurang lebih terjadi di saat kita berada di bulan suci, Ramadhan. Bulan (waktu) yang diciptakan Allah SWT hanya untuk memberi kesempatan hamba-hamba-Nya untuk memperbaiki diri. Ibarat sebongkah kepompong yang melakukan hibernasi dan pertapaan. Agar setelahnya mampu menjadikan diri sebagai seekor kupu-kupu cantik yang kehadirannya diharapkan oleh semua tumbuhan.

Ramadhan-berlalu

Hanya saja, yang sering terjadi – bahkan di antara kita, adalah ketidaksadaran kemuliaan bulan ini. Sampai-sampai nyaris kita tidak merasakan dan melakukan perubahan apapun saat berada di dalamnya, kecuali hanya menahan lapar, haus, dan hubungan suami istri di saat matahari keluar untuk melakukan tugas rutinnya. Sehingga tak sedikit pula dari kita, yang menganggap Ramadhan seperti bulan-bulan biasa yang tak berbeda dengan bulan yang lain. Hal ini yang sering kali membuat kita tak pernah menghargai Ramadhan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabatnya.

Rasul SAW mengajarkan kepada kita tentang persiapan yang beliau lakukan sebelum memasuki Ramadhan. Bahkan dua bulan sebelumnya. Maka seringlah kita mendengar dari para guru, setiap memasuki bulan Rajab, kita akan diajarkan sebuah doa yang berasal dari Rasul. Yang maknanya, “Wahai Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”.

Kalimat doa di atas sesungguhnya mendidik kita untuk benar-benar mempersiapkan diri, jauh-jauh hari untuk menyambut Ramadhan. Agar ketika memasukinya, baik fisik maupun ruhani kita, telah siap beraktivitas dengan sebaik mungkin. Sehingga, jauhlah kita dari sifat menyia-nyiakan Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW menjaminkan kerugian kepada siapa saja yang tidak bisa menghargai Ramadhan dengan baik. Seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut ini:

“Merugilah orang yang memasuki bulan Ramadhan, kemudian meninggalkannya namun tanpa diampuni (semua dosanya) oleh Allah” (HR. An Nasa’i)

Begitulah Allah mendidik kita melalui Ramadhan. Tak berhenti hanya sampai itu. Menurut kami, yang jauh lebih penting ialah bagaimana membuat semangat dan nuansa Ramadhan hadir di bulan-bulan berikutnya. Di waktu-waktu selain Ramadhan itu sendiri. Karena, jika boleh diibaratkan badan kita ini seperti sebuah telepon selular yang membutuhkan tenaga listrik melalui baterai, maka proses pengisian tenaga baterailah itulah sesungguhnya Ramadhan.

Setelah baterai penuh, tentu saja kita akan membawa telepon tersebut beraktivitas. Mengarungi kehidupan dengan segala terik dan peliknya. Juga kesenangan dan kemudahannya. Agar setiap hamba benar-banar memiliki stamina keimanan yang bugar sekaligus prima. Tidak mudah sakit dan berpenyakit. Sehingga membuat hati dan raganya mati untuk menginstrospeksi dan mengenal Allah (lagi).

Kami tidak mengatakan membuat nuansa Ramadhan di luar Ramadhan itu mudah. Tapi, kami mengajak kepada kita semua untuk kembali kepada kesadaran Ramadhan. Lagi-lagi dan kembali menghidupkan suasana Ramadhan. Setidaknya di dalam rumah dan kehidupan kita. Meski itu terjadi dengan sangat sederhana. Puasa sunnah, infaq, zakat maal, menjaga dan mengendalikan nafsu, serta qiyamul layl, setidaknya merupakan rangkaian ibadah yang selayaknya bisa membuat Ramadhan hadir lagi di antara kita. Agar hubungan kita dengan Allah SWT terjaga. Serta hubungan kita dengan sesama manusia semakin mesra. Insya Allah bisa! Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *