Home / Artikel Haji / Islami / Santun kepada sesama

Santun kepada sesama

Mari sedikit membayangkan. Ketika ada pengemis atau pengamen datang ke rumah kita. Meminta sedikit rupiah untuk menyambung hidupnya. Apa yang kita lakukan ? Kebanyakan dari kita pasti akan sepakat pada jawaban umum yang serupa. Memberi.

santun

Kemudian mari kita lanjutkan. Secara jujur, bagaimana perasaan kita saat memberi sedikit uang kepada mereka. Lebih tepatnya dengan perasaan apa. Merasa berada pada keadaan lebih baik, lebih tinggi, atau lebih mulia dari yang diberi. Atau mungkin tanpa perasaan. Dengan memberi seadanya dan berharap agar mereka segera enyah dari pandangan.

Terlepas dari bagaimana kita memberi, lewat kasus imajinatif di atas, mari kita menilai dan mengintrospeksi diri. Tentang bagaimana cara kita memperlakukan. Tentang bagaimana kebiasaan kita dalam menghadapi. Tentang bagaimana diri kita menanggapi. Baik terhadap sesama manusia, ataupun kondisi hidup yang mampir dalam sel-sel waktu kehidupan.

Memperlakukan, menghadapi, maupun menanggapi merupakan kecerdasan emosional rasional yang sungguh luar biasa. Di dalamnya pun terkandung dimensi yang luas yang menunjukkan kematangan pribadi kita. Bahkan, niat yang baik sering kali menjadi sangat jauh dari kebaikan itu sendiri jika kita gagal mengemasnya dalam suatu cara yang benar. Simaklah firman Allah SWT berikut:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”(QS. Al Baqarah ayat 263)

Allah SWT pada ayat di atas ingin mendidik kita untuk memiliki cita rasa kehidupan yang tinggi dan spesial. Tidak hanya “harus” berinfak, tapi juga dengan cara memberi yang terbaik. Tak boleh menyakiti, tak boleh merendahkan, tak boleh meremehkan, apalagi menghinakan. Sang Maha Santun ingin hamba-hamba-Nya juga memiliki kesantunan berpikir dan bertindak. Terutama terhadap sesamanya.

Kesantunan ini tak hanya berlaku pada kegiatan berinfak. Namun juga pada proses persuasif untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia kembali meng-ilah-kan Allah semata (baca:dakwah). Bahkan Allah SWT kategorikan bahwa dakwah adalah sebaik-baik pekerjaan yang mampu dipersembahkan manusia.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat ayat 33)

Dakwah harus berfokus pada kebenaran yang haq. Karenanya, dakwah haruslah menjawab kebutuhan. Bukan merendahkan apalagi menghinakan. Dakwah bukan proses menyalahkan apalagi menghujat kesalahan. Tapi, bagaimana dakwah mampu menebarkan aroma ilmu yang suci. Agar yang tak tahu menjadi tahu. Agar yang tak peduli menjadi peduli. Agar yang tak terberi menjadi memiliki.

Dakwah juga merupakan usaha untuk memberi solusi atas masalah yang terjadi pada setiap insan yang terajak kepada Allah SWT. Karenanya proses untuk mengajak pada jalan ketaatan tak boleh dibangun dengan pepesan kosong. Tak benar jika dakwah dilakukan dengan proses “gerilya” atau hit and run. Sehingga akhirnya para dai hanya bisa mengajak, kemudian meninggalkan yang diajak agar bertemu dengan masalahnya sendiri.

Tidak. Sungguh tidak. Dakwah yang mulia ini, seberapa pun kecilnya wilayah yang mampu dijangkau, harus menjadi jalan yang membuat manusia benar-benar bertemu dengan Allah SWT. Melalui jalan yang sudah dicontohkan para Rasul yang mulia. Serta dilestarikan oleh para alim ulama yang sholeh dan ikhlas dalam menjalankannya.

Karenanya, mari untuk terus memperhatikan dan mengintrospeksi cara kita. Cara untuk mengajak. Cara untuk mendidik. Cara untuk berinteraksi. Patutlah kita untuk curiga atas ajakan-ajakan kebaikan yang meluncur dari lisan kita, namun ternyata justru membuat orang lain enggan. Membuat pihak terajak menjauh, lari, bahkan kapok untuk berhadapan dengan kita. Mari memperbaiki. Agar ajakan yang kita sampaikan terdengar sebagai alunan melodi jiwa yang indah, bukan petir yang menghunjam dengan kemurkaan. Wallahua’lam. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *