Home / Artikel Haji / Islami / Sarana Cinta

Sarana Cinta

Islam, sejak kita berikrar untuk mengikutinya, sudah memberikan efek-efek samping yang mendorong pada kebaikan. Syahadat yang dilakukan nyaris tanpa syarat – kecuali keikhlasan jiwa, mendorong kita sebagai muslim untuk memasuki rukun islam berikutnya secara bertahap. Sehingga setiap muslim hendaknya mampu menjadi sempurna dan utuh dengan menunaikan setiap rukun keislamannya.

sarana beribadah haji

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208)

Kesempurnaan itu harus diiringi oleh faktor pelengkap atau sarana yang semakin mempermudah pencapaian tujuannya. Sejak rukun islam yang kedua saja, yaitu shalat, setiap muslim membutuhkan sarana yang baik. Misalnya, untuk mengerjakan shalat terdapat syarat bahwa seluruh aurat pelakunya harus tertutup. Artinya, kita dituntut untuk memiliki pakaian yang sopan secara pergaulan dan santun dalam pandangan syar’i. Baju, peci, sarung, atau mukena yang digunakan hendaknya mampu semakin menyempurnakan ibadah kita. Tidak sebagai alat penunjuk kemewahan ataupun kekayaan, tapi sebagai alat untuk menyempurnakan ibadah.

Begitu pula syariat zakat. Rukun islam yang hampir selalu kita temukan berdampingan dengan perintah shalat di dalam Alquran ini, juga tidak akan mungkin diraih apabila kita tidak memiliki sarana pendukungnya. Sehingga, konsekuensi logisnya melalui zakat, setiap muslim didorong untuk memiliki kekuatan (qowiyy) di dalam hal harta. Oleh karenanya, sebagai turunan akibat, bekerja keras untuk mendapatkan harta dengan cara yang baik (thayib) dan halal, apalagi diniatkan untuk memperbesar infaq, shodaqoh, dan zakat, merupakan ibadah yang tiada terkira pahalanya.

Kekayaan yang dicapai, berikutnya dikendalikan lewat empati terhadap sesama muslim dan sesama manusia. Melalui syariat puasa ramadhan yang sebentar lagi akan kita sambut bersama. Sehingga dengan melimpahnya harta yang telah kita kumpulkan, setiap muslim tidak beranjak menjadi pribadi dengan karakter egois, tak peduli, dan individualistis. Kepedulian sosial yang didorong melalui mekanisme puasa hendaknya mengingatkan kepada kita semua bahwa semua kehidupan dengan segala kemegahannya akan berakhir dan kepada Allah sajalah kita semua kembali. Sehingga daki-daki keserakahan yang bodoh dan tidak bertepi mampu dibersihkan tak bersisa setelah memasuki syawal.

Sarana untuk beribadah mungkin yang akan sangat terasa adalah ketika kita akan menunaikan ibadah haji di baitullah. Hendaknya setiap muslim mampu menyiapkan sarana ibadah haji dengan kualitas prima. Agar hal ini tidak menjadi beban pikiran kita di dalam pelaksanaannya. Mulai dari pakaian ihram, sajadah atau keperluan untuk wukuf di padang arafah, hingga alat untuk melindungi kita dari kemungkinan cuaca ekstrim yang akan mengganggu kita dalam pelaksanaan haji. Kebutuhan-kebutuhan ini sebaiknya terpenuhi dengan baik jauh-jauh waktu sebelum keberangkatan. Persiapan yang baik seiring dengan hasil yang baik pula. Maka penting untuk mempercayakan kebutuhan ini pada agen-agen atau toko penyedia perlengkapan haji yang kredibel, amanah, terpercaya dan berpengalaman baik. Sehingga sejak dari persiapannya, ibadah haji sudah menjadi rangkaian keindahan-keindahan ibadah, baik secara mahdhah ataupun mu’amalah.

Kebiasaan memilih sarana prima dalam ibadah sering dicontohkan oleh Rasulullah yang mulia. Salah satunya adalah pada alat transportasi yang Rasulullah SAW gunakan di dalam dakwahnya. Unta beliau, yang bernama Al Qaswa’, merupakan kualitas unta yang terbaik. Mampu berjalan dan berlari sangat kencang dan tahan untuk dipakai dalam jangka waktu lama serta dalam perjalanan yang jauh. Tentu hal ini tidak akan dicapai jika beliau mengabaikan pertimbangan untuk mendapat kualitas prima dalam sarana ibadah.

Baju perang dan pedang (zulfiqar)  yang digunakan beliau di dalam peperangan membela agama Allah juga terpilih dari kualitas yang sangat spesial. Tentu, hal ini bukan bermaksud untuk pemenuhan gengsi dan kemewahan, tapi lebih karena kebutuhan untuk mendukung ibadah yang sempurna. Dari kedua contoh ini, maka marilah kita mengubah cara berpikir kita tentang sarana untuk mendapatkan cinta Allah. Bahwa memiliki sarana yang baik dan prima untuk beribadah adalah hal yang sangat diperbolehkan (mubahat) dan tidak terhina. Bahkan, bisa jadi persembahan terbaik yang akan semakin menegaskan penghambaan kita pada Allah Yang Maha Mulia. Sebagai hasilnya, semoga cinta Allah kepada anda juga semakin spesial dan sempurna. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *