Home / Artikel Haji / Islami / Seni Berkorban

Seni Berkorban

Haji memang ibadah yang spesial. Umat Islam berduyun-duyun secara serentak mengunjungi Kakbah menjelang bulan Dzulhijjah. Bertemu dengan jutaan muslim  dari setiap jengkal tanah di bumi ini. Di sana mereka melaksanakan syariat-syariat haji secara serentak. Bergerak bersama. Berdoa bersama. Menyampaikan segala keluh kesah, rintihan, ratapan, dan tangisan kepada Sang Pemilik Rumah. Mengumpulkan energi-energi Ilahiah agar bisa dibawa pulang dan menjadi tenaga spiritual yang besar untuk melaksanakan aktivitas pasca haji.

“ Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia “ (QS. Al Maidah : 97)

Maka tidak mengagetkan jika banyak umat Islam sangat merindukan untuk terus hadir dan datang di Baitullah. Di sana semua peradaban manusia rabbani hadir. Di sana pula Rasulullah yang mulia diturunkan Allah untuk membersihkan dan menyempurnakan ajaran Islam dari segala debu dan daki penyimpangan. Mulai dari aqidah sampai pada akhlak; secara total.

Tidak terkecuali kaum muslimin tanah air. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia menyumbang jumlah jamaah haji yang sangat besar setiap tahunnya. Berdasarkan pada data yang dirilis oleh Kementerian Agama RI jamaah haji yang mendaftar setiap tahunnya mencapai kurang lebih 1,4 juta jamaah. Ini jumlah yang sangat besar, mengingat kuota atau jatah yang diberikan Kerajaan Arab Saudi kepada Indonesia hanyalah sekitar dua ratus ribuan jamaah saja. Hal ini sangat merepotkan Kementerian Agama di dalam pengurusannya. Mulai dari administrasi keberangkatan yang harus selektif sampai urusan katering yang menunjang ibadah para jamaah haji di tanah suci. Oleh karena jumlah yang demikian besar, tak heran jika banyak terjadi antrian panjang jamaah haji dari seluruh penjuru tanah air.

Namun, ternyata masalah ini sebagiannya disumbang oleh para calon jamaah haji dari tanah air. Sederhana saja, keinginan mereka untuk kembali berangkat menunaikan ibadah haji setiap tahunnya tentu membuat kuota atau jumlah pendaftar ibadah haji tak pernah surut. Fenomena ini tentu menarik untuk kita simak bersama dari beberapa sudut pandang sosial maupun agama.

Pertama, marilah kita, khususnya pembaca yang sudah pernah menunaikan haji di Baitullah, untuk meraba perasaan saudara-saudara muslim kita yang belum pernah beribadah haji. Kenikmatan kita saat beribadah di Mekkah selayaknya memang membuat kita rindu untuk kembali. Tapi bukankah Rasulullah SAW yang mulia saja hanya menunaikan haji sebanyak satu kali seumur hidupnya. Pada tahun ke 8 hijriah, Rasul menunaikan haji sembari menyampaikan khutbah yang memberi tanda bahwa hidupnya tidak lama lagi. Haji yang terjadi itu akhirnya disebut sebagai haji wada, yang artinya perpisahan. Oleh karenanya, marilah kesempatan untuk beribadah itu juga kita berikan kepada saudara-saudara muslim yang lain, terutama yang belum pernah haji di Baitullah. Sehingga kenikmatan beribadah bukan hanya kita monopoli sendiri, tapi juga disebarkan kepada manusia yang lain.

Kedua, di dalam Islam ada konsep pahala yang bersifat eksponensial. Maksudnya, ada ibadah-ibadah yang  benar-benar mengundang pahala sangat besar dari Allah SWT. Misalnya, jika kita mewakafkan sebagian tanah kita untuk pendidikan Al quran atau pendirian masjid. Mungkin, kejadian ibadah itu hanya satu kali, tapi pahala yang akan didapatkan terus mengalir sampai hari kiamat. Begitu juga dengan haji. Jika para pembaca sekalian memiliki kelebihan rizqi untuk berangkat lagi menunaikan ibadah haji (untuk kedua kalinya atau lebih), bukankah akan lebih mulia jika pembaca sekalian menggunakan uang tersebut untuk memberangkatkan haji saudara-saudara muslim yang lain (khususnya yang belum pernah berhaji). Sehingga, sekali lagi, kenikmatan ibadah itu bisa dirasakan oleh banyak orang, di samping semoga pahala haji dari Allah SWT juga tercatat kepada para pembaca sekalian.

Ketiga, Islam mengajarkan betapa kasih sayang dan kepedulian sosial merupakan karakter yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Marilah kita simak, apa yang Allah SWT firmankan di dalam surat Al Maa’uun ayat 1 sampai 3 berikut ini:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. “

Setiap muslim dianggap orang-orang yang mendustakan agama Allah SWT jika dia tidak memperhatikan anak yatim apalagi sampai menghardiknya. Bahkan, setiap muslim tidak dianggap benar Islamnya jika tidak menganjurkan untuk saling memberi makan kepada orang-orang miskin. Tidakkah kita semua tergerak untuk menafkahkan harta-harta kita pada aspek sosial setelah ibadah-ibadah ta’abudii telah selesai kita kerjakan. Sehingga predikat muslim kita benar-benar aman dari anggapan dan noda kefasikan dan pemahaman yang parsial (juz’i). Bahkan seorang ulama dari Qatar, Dr. Yusuf Qaradhawi menyatakan, alangkah baiknya jika harta yang digunakan kaum muslimin berangkat ke tanah suci untuk kedua kalinya, diinfaqkan untuk membantu perjuangan umat Islam di berbagai negara. Sehingga terbebaslah negeri-negeri muslimin dari cengkeraman penjajahan aqidah dan teritorial.

Tiga hal di atas, semoga menjadi renungan bagi kita semua. Tidak lain dan tidak bukan, untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah dan RasulNya. Semoga Allah menuntun kita dalam kebenaran. (AA)

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *