Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Written by Perlengkapan Haji on . Posted in Artikel Haji / Islami

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu juga akan anda rasakan. Melihat hampir setiap episode kehidupan anak-anak kita di setiap kondisi. Mulai dari makanan, hingga masa depan. Mulai dari kandungan, hingga melepasnya ke pelaminan. Mulai dari yang paling mudah, sampai yang paling rumit menurut mereka, juga kita.

fitrah-anak

Kasus yang sangat memilukan hati terjadi tidak lama sebelum tulisan ini tertuang. Seorang siswa SMA di ibukota, memilih mengakhiri hidupnya dengan sukarela. Sederhana, motifnya adalah kecemasan berlebih untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional. Ketakutan yang terjadi begitu mendominasi remaja ini. Kekhawatiran yang begitu besar atas kejadian yang jauh dari kata terwujud. Tidak lulus, malu, menjadi aib keluarga, dan mungkin masih banyak sebab yang lain sepertinya bersliweran memenuhi kepala adik kita, sebelum memutuskan untuk berpindah alam.

Tentu akan ada banyak pendapat jika kita ingin mendiskusikannya. Bahkan mungkin sekedar pembenaran atau pengelakan atas kesalahan yang terjadi. Maka kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kalaupun ada pihak yang harus disalahkan, maka itu adalah kita. Ya, cara kita memahami keadaan dan potensi anak-anak kitalah yang mengantarkan pemahaman menyimpang yang terjadi pada masyarakat tepat kita berdiam.

Kami sepenuhnya setuju dengan apa yang disampaikan pakar psikologi. Bahwa setiap anak dilahirkan dengan keunikannya sendiri. Ibarat lembaran kertas putih bersih yang dibuka secarik demi secarik pada buku kehidupan. Untuk kemudian diisi goresan demi goresan. Hingga akhirnya menentukan kualitas isi dari kumpulan kertas yang menjadi buku perjalanan hidup. Ini sangat seirama dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan dalam sabdanya yang mulia:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong hidungnya?”(HR. Imam Muslim)

Lalu, apa yang membuat kedua pernyataan di atas saling berhubungan. Mari kita berangkat dari petunjuk Utusan Allah. Bahwa hakikatnya setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, bersih, sesuai dengan fitrah atau kewajaran hidup manusia. Kebaikan, nurani, dan prestasinya dalam keadaan putih bersih tanpa nila setitikpun. Lalu mulailah kita, orang tuanya, yang mulai mengenalkan nilai demi nilai dan arti kehidupan yang berlaku. Sehingga, sesuai dengan hadits di atas, bagaimana arah orang tua dalam mewarnai anak keturunannya, seperti itulah hasil yang akan nampak dari anak tersebut.

Termasuk pemahaman bahwa yang dikatakan berhasil atau juara kehidupan adalah bagi mereka yang memiliki nilai raport terbaik. Memiliki berbagai macam piala dan piagam penghargaan. Dengan sederet medali yang dipamerkan dalam lemari kaca di ruang tamu. Tidak tanggung-tanggung, predikat yang kita jejalkan untuk anak-anak kita di sekolah adalah yang paling atas.

Saudaraku, kami tidak mengatakan hal di atas sepenuhnya salah. Sama sekali tidak. Namun, jika kita mau sesekali merenungi semua proses belajar anak-anak kita, tentunya akan kita temukan ketidaktepatan pemahaman di dalam benak kita. Sebagai contoh, apa sesungguhnya definisi belajar yang paling tepat. Setidaknya ada beberapa kata kunci. Pertama, belajar merupakan proses perjalanan. Sehingga hal ini akan berhubungan dengan kata kunci yang kedua, yaitu waktu.

Proses pembelajaran membutuhkan waktu untuk memperkuat akar pengetahuan di dalam fikiran anak-anak kita. Maka tidak benar jika kita menghukumi proses belajar anak-anak kita dengan sebuah kesempurnaan yang mutlak. Sampai-sampai kita mengingkari adanya kesalahan yang dilakukan mereka di dalam masa belajar. Karena, itu sama saja mengingkari ide pokok dari belajar itu sendiri: perubahan dari tidak bisa menjadi bisa.

Di samping itu, waktu yang dibutuhkan untuk membuat mereka bepengetahuan tidaklah seragam. Ada yang butuh satu menit, satu jam, satu hari, satu pekan, atau bahkan satu tahun untuk menanamkan sebuah nilai keilmuan. Karenanya, proses belajar tidaklah instan. Membutuhkan kesabaran dan konsistensi bagi setiap orang tua dan pendidik serta pengajar untuk membentuk karakter peserta didik.

Kata kunci yang terakhir, kita akan rangkum dari hadits Rasul di atas. Bahwa setiap anak hadir dalam keadaan fitrah. Itu artinya, setiap manusia yang lahir di dunia ini memiliki sebuah potensi besar; bakat. Hal yang selayaknya menjadi pemikiran kita adalah bakat apa yang dimiliki oleh anak-anak kita. Ini tentu saja ada keragaman. Tidak bisa sama atau seragam antara satu dengan yang lain. Bukankah guru-guru kita di sekolah, berjumlah banyak dikarenakan kemampuan spesialisasi mata pelajaran?

Maka hal yang harus kita kedepankan hari ini adalah menerima bakat anak-anak kita apa adanya. Bukan sebagaimana harapan-harapan kita dan orang di lingkungannya. Tugas kita hanyalah menemukan potensi dasar yang dibawa anak-anak kita untuk kemudian diasah sehingga menjadi mutiara berjalan yang mampu mempesona. Sesuai dengan kemilau aslinya. Sesuai dengan fitrah kesuciannya. Wallahua’lam. (AA)

Kata populer:

  • setiap anak yang dilahirkan adalah suci
  • kata mutiara untuk menjaga lisan
  • hadist nabi tentang ana suci dalam keadaan fitrah
  • hadits tentang setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci
  • kata mutiara untuk menjaga lidah
  • hadist anak di lahirkan dalam keadaan fitrah
  • kata2 mutiara jaga mulut
  • memuliakan tamu menurut islam
  • pesan dasar dalam hadits abu hurairah tentang anak lahir dalam keadaan fitrah
  • selalu saja merendahkan

Comments

comments

Tags:

Trackback from your site.

Leave a comment