Home / Artikel Haji / Islami / Syurga (Lewat Mana ?)

Syurga (Lewat Mana ?)

Sebuah keluarga kecil. Sangat kecil. Tapi juga sangat menginspirasi. Semoga Allah merahmati keluarga ini. Namun, pada kesempatan kali ini nama sepasang suami istri ini kami sembunyikan dan samarkan. Agar keikhlasan mereka semakin solid, bulat, dan pejal. Hanya untuk Allah SWT. Dan agar para malaikat “tidak kesulitan” mencatat keikhlasan hati mereka.

jalan-ke-surga

Baik, kita mulai. Sebut saja sepasang laki-laki dan perempuan yang terikat resmi dalam ikatan suci pernikahan ini sebagai Amun dan Siti. Suatu hari, sengaja tidak sengaja kami berkenalan. Dalam bingkai kegiatan yang mencoba mendidik setiap pemuda muslim menjadi lebih tahu, cinta, dan bangga kepada Allah, agama-Nya, dan tanah air tempat mereka berpijak. Episode itu bermula saat kami ada dalam satu mobil. Mas Amun bertindak sebagai driver. Mbak Siti bertindak sebagai navigator yang setia berada di samping driver. Sehingga tentu saja kami berada di bagian kursi tengah dan belakang mobil sederhana.

Entah dari mana keberanian yang muncul dalam benak kami, pertanyaan pun mulai hadir. Awalnya sebagai pemecah ketegangan dan kecanggungan yang terjadi di antara dua pihak yang baru mengenal satu sama lain. Namun, pertanyaan yang paling berani kami lontarkan adalah, “Putranya tidak diajak Mas ?” dan Mas Amun dengan tenang memandang wajah istrinya. Dengan senyum simpul kemudian istrinya bertindak sebagai juru bicara, “Belum dipercaya Allah untuk mengasuh putra – putri Mas.”. Kami pun terhentak kaget. Sekonyong-konyong tenggelam dalam rasa bersalah yang tiada terperi. Salah tingkah, salah sikap, dan salah-salah yang lain seakan ikut menemani aura kami di dalam mobil.

“Mungkin, kami terlalu sibuk Mas untuk cari maal.  Jadi Allah menilai kami belum siap untuk mendidik keturunan.”, Mas Amun berusaha menimpali pernyataan istri. Setelah kami meminta maaf atas pertanyaan yang menurut kami agak lancang tadi, Mas Amun mulai menjelaskan kenapa beliau dan istri sangat sibuk mencari harta (maal) dalam kehidupan rumah tangga yang baru setengah tahun mereka jalani.

“Kami sangat ingin Mas, untuk masuk syurga Allah lewat pintu harta. Jadi kami sangat bergairah dalam mengumpulkan kekayaan sehingga banyak pihak yang mampu menjadi target distribusi kekayaan kami.”, Mas Amun menjelaskan misi hidupnya dan istri. Sejenak kami terdiam, sembari terus berusaha menunjukkan arah jalan yang menjadi tujuan, kami mengendapkan kalimat ini dalam relung ide dan keimanan kami.

“Benar Mas, coba kalau disimak dari pengajian yang diberikan para ustadz atau ustadzah, tentang deskripsi syurga-Nya Allah SWT. Semua arah atau cara masuk syurga itu selalu melewati pintu, ga ada kan yang nyelonong lewat jendela? Apalagi lewat gang tikus?!”, Mbak Siti mulai berkelakar.

Sambil tertawa kecil, kami terus menyimak penjelasan sepasang suami istri ini.

“Dan pintu-pintu yang ada di syurga itu sebenarnya menunjukkan spesifikasi amal unggulan yang membuat kita semua merasa pantas dan berhak untuk masuk syurga Allah SWT. Misalnya, pintu syahid bagi para mujahidin; orang-orang yang rela mati untuk membela agama Allah. Terus, pintu shaum, bagi orang-orang yang taqarrub ilaLlah-nya lewat puasa; baik wajib ataupun sunnah. Kemudian ada juga pintu syurga yang khusus untuk orang-orang yang ahli dalam infaq. Ada lagi pintu yang dilalui oleh orang-orang yang jago dalam hal shalat. Dan mungkin masih banyak lagi. Nah, yang keren itu ya kayak Abu Bakar Ash Shidiq r.a.. Beliau bisa masuk syurga Allah lewat mana aja.”, Mbak Siti berusaha menjelaskan dengan sangat detail maksud suaminya.

Kami lebih serius menyimak pernyataan ini. Kalimat demi kalimat yang  meluncur seperti untaian nasihat yang secara cuma-cuma kami dapatkan. Meski demikian, menjadi sarat dengan hikmah dan pelajaran akan pentingnya visi hidup di bumi yang menunjang kehidupan kami di akhirat.

“Nah, kami sangat ingin masuk syurga Allah lewat pintu harta atau infaq tadi. Jadi ya gini kerjaan kami. Kerja keras, kumpulin duit, sebarin ke tempat-tempat yang butuh. Yah, kami hanya berharap semoga Allah ridho kepada apa yang kami lakukan Mas.”, Mas Amun menegaskan ulang.

Cukup. Nasihat dari sepasang suami istri ini lebih dari cukup sebagai tadzkirah (peringatan) untuk kita semua. Bahwa syurga harus dicapai. Tidak hanya itu, tapi harus dicapai dalam spesifikasi amal yang menjadi unggulan. Sehingga Allah merasa pantas memasukkan kita dalam kenimatan syurga-Nya. Hanya saja, kemudian kita berpikir dengan sangat objektif: adakah amal-amal kita yang kiranya menjadi unggulan sehingga kita berhak menikmati syurga-Nya?

Jika tidak, maka tak ada pilihan lain, setelah tulisan ini kita baca dan hayati bersama, berikutnya adalah mencari, menggali, dan terus mengeksplorasi apa yang bisa menjadi amal unggulan kita bersama. Agar kita pantas jadi golongan syurga. Golongan orang yang beruntung. Yang menjadi inspirasi dunia. Sekaligus menjadi penikmat kemenangan hakiki di akhirat. Mari mencari, mari menjadi, dan mari menikmati. Wallahua’lam. (AA)

Kata populer:

  • gambaran surga
  • gambar surga
  • surga
  • jalan menuju surga murah

Comments

comments

Check Also

Setiap Anak Dilahirkan dalam kondisi Fitrah Suci

Ada keprihatinan yang sangat mendalam di hati kami. Begitupun dengan yakin kami sampaikan keprihatinan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *